Song of Gaza

WE WILL NOT GO DOWN
by Michael Heart
gaza Pictures, Images and Photos

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames & nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night,without a fight
You can burn up our mosques & our homes & our schools
But our spirit will never die
We will not go down in Gaza tonight

Women & children alike
Murdered & massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
& the bombs fell down like acid rain
But through the tears & the blood & the pain
You can still

KAMI TIDAK AKAN PUTUS ASA

Kilat cahaya putih yangg membutakan
Kobaran api di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
tidak tahu apakah mereka akan mati atau hidup
Mereka (Israel) datang dengan tank-tank dan pesawat-pesawat
Dengan merusak, menyalakan api, dan sama sekali tidak meninggalkan bekas
Hanya sebuah suara berkembang dalam asap dan pelarian

Kami tidak akan putus asa
Dalam kegelapan, tanpa pertarungan
Kalian bisa membakar masjid-masjid kami, rumah-rumah kami, dan sekolah-sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan putus asa di Gaza malam ini

Perempuan dan anak-anak sama
Dibunuh dan di sembelih dengan kejam dan besar-besaran malam demi malam
Tidak mempedulikan panggilan pemimpin-pemimpin negara yang jauh
Mendebatkan siapa yang salah dan siapa yang benar
Tetapi kekuatan kata-kata mereka sia-sia belaka
Dan Bom terasa seperti hujan asam
Tetapi menuju kehancuran dengan sobekan-sobekan, dan darah serta kesakitan
Kalian masih bisa

Nb : Arti yang lebih sempurna saya harapkan dari pembaca

_____________________________________________________________________

Sesal di Tahun Baru

Matahari baru tenggelam meninggalkan dunia ini
Malam belum terlalu pekat untuk tempat bersembunyi
Di atas sana, awan bersinar merah terang menyala
Berkobar menyadarkan sebuah kenyataan yang telah ada
Berbagai perbuatanku tiba dan nyata berputar didepan mata
Dimana aku menghabiskan hari-hari hingga saat ini tiba

Di ujung langit yang jauh
Bulan sabit terbentuk, tertunduk malu-malu
mengenakan selendang putih tipis dan transparan pada mataku
Aku tercenung satu hal, nyanyian malaikat dan doa terdengar mengiba-iba
Aku tercekat, tenggorokanku kering dan gagap bersuara
Tahun baru
Tahun baru dimulainya hijrahnya manusia sempurna
O ya Nabi, mengapa aku melupakan hari yang berharga ini?
Tolong, jangan kau campakkan pula aku suatu saat nanti
Ketika harta dan dunia tidak bisa mengatakan apapun lagi

Ya Tuhan, Allahku…
Aku masih mengingat-Mu
Aku masih pernah ingat satu waktu
Ketika aku menangis karena kesedihanku
Aku bersimpuh dimasjid kampungku, di hadapan-Mu
Ketika aku tertimpa musibah, dan hanya berharap kepada-Mu
Dan ketika aku kehilangan pegangan hidupku
Aku berlari kepada-Mu, memohon semua rahmat-Mu
Dan…
Oh Allahku, betapa tidak tahu malunya aku
Yang hanya mengingat-Mu kala kelemahan, kesedihan, kesepian, dan suramku
Hiks…
Apakah aku dapat mengungkapkan penebusan dosaku Tuhanku?

Ini, ini air mataku, Tuhan…!!!
Kuletakkan dihadapan-Mu
Terserah, kau lemparkan ia ke dalam neraka
Kau campakkan ia ke jalanan jembatan shirotol mustaqim-Mu
Terserah, hanya kepasrahanku yang kupunya

Hari ini, mengawali kehidupanku di tahun baru
Kulangkahkan kaki di jalan-Mu

Tuhan, Allahku…
Dengarlah detak jantungku
Tak henti menyebut asma-Mu

Maafkanlah hamba-Mu

Refleksi Hari Ibu

Suatu hari ketika aku masih sekolah, satu peristiwa yang paling kuingat adalah ketika tiba-tiba ibuku datang sambil membawakan payung karena hari itu mendung. Aku sangat membenci hari itu, bagaimana tidak, ibuku hanya mempunyai satu mata, dan itu membuatku malu dihadapan teman-temanku. Entahlah, sejak saat itu aku menjadi snagat membencinya.

Sebenarnya aku memendam kemarahanku ini. Aku masih tau diri kalau ia ibuku maka harus kuhormati. Tapi ini keterlaluan, mengapa juga ia buta? Tidak normal seperti ibu teman-temanku yang lain? Dan kemarahan itu ibarat sebuah lahar dalam gunung berapi yang mengendap-endap terus mencari sela agar bisa keluar. Dan sela itu ada ketika ibuku datang mengambil raport terakhirku, kelas enam SD. Kemarahanku membeludak, saat pulang, aku memarahi ibuku. Aku berkata ”Mengapa sih Ibu datang tadi pagi? Bukankah sudah kubilang kalau Ibu enggak usah datang? Dan mengapa Ibu buta? Ibu tahu kalau Ibu telah membuatku malu didepan teman-temanku? Mengapa ibu tidak mati sekalian?”

Aku tahu dan sadar, itu sangat keterlaluan. Dan aku tahu pula, pada detik itu juga, hati Ibuku remuk redam. Tapi paling tidak aku telah mengungkapkan rasa yang kupendam bertahun-tahun ini, dan aku bisa bernafas lega.

Maka sejak hari kelulusanku itu, aku meminta kepada Ibuku agar membiayaiku sekolah keluar kota. Aku ingin sekolah ke kota agar Ibu tidak bisa datang menjengukku untuk mempermalukanku lagi. Dan aku menikmati sekolah baruku. Aku belajar dengan tekun, aku ingin keluar negeri agar aku semakin bertambah jauh dari ibuku yang buta. Dan akhirnya cita-citaku tercapai juga.

Pada akhir semester kelas XII aku di tawari sekolahku untuk beasiswa kuliah ke Jepang. Tentu saja aku terima dengan senang hati. Kini aku tidak lagi mengharapkan izin dari Ibuku yang buta itu terlalu banyak karena aku sudah bisa membiayai kuliahku disana. Aku terbang tanpa diiringi Ibuku. Ibuku saya suruh tetap di desa dan jangan sekali-kali menjengukku ke sekolahan. Dan Ibuku menuruti permintaanku tersebut.

Hingga kemudian aku telah sukses menjadi pengusaha di Jepang dan banyak keliling dunia. Tiba-tiba entah aku tidak tahu bagaimana bisa, Ibuku berada di rumahku yang ada di Jepang saat aku pulang dari perjalanan ke luar negeri. Aku terhenyak, karena malu pada isteri dan anak-anakku, maka aku berpura-pura tidak mengenalnya dan mengusirnya dari rumahku tersebut. ”Pergi dari sini, aku tidak mengenalmu. Jangan mengaku aku anakmu!” ucapku sambil berkacak pinggang. Sungguh aku benar-benar telah melakukannya. Hingga kemudian Ibuku yang masih saja buta itu pergi dengan linangan air mata. Tapi tetap saja itu tidak menggetarkan hatiku.

Tidak seperti biasa, tahun ini teman-teman ingin mengadakan reuni SMA. Aku memang belum pulang sejak enam tahun. Maka dengan alasan kerja, aku pamit kepada isteri. Aku terbang lagi ke sekolahanku dan dilain hari aku mengunjungi desaku, rumahku, tempat Ibuku yang buta.

Masih saja seperti dulu, rumah tua berdinding bambu. Aku masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu karena pintu itu tidak di kunci sama seperti dulu. Kutemukan Ibuku entah tertidur atau pingsan diatas kursi sambil menggenggam sehelai kertas. Aku sama sekali tidak iba kepadanya, entahlah. aku membuka genggamannya, dan membaca isi kertas tersebut.

”Anakku, aku senang kau pulang. Aku senang melihat kau telah berhasil di perantauan. Sekarang aku tidak akan menganggumu lagi, aku sudah tahu Jepang tempat tinggalmu meskipun sempit tapi begitu indah. Aku bangga padamu Nak. Dulu waktu kecil, kau terjatuh dan mengakibatkan matamu bengkak hingga tidak bisa melihat. Seluruh harta kekayaan yang ada waktu itu habis untuk membiayaimu. Tapi sayangnya kau tidak juga sembuh. Kau buta waktu itu. Akhirnya aku mengalah, kuhadiahkan mataku untukmu. Ternyata tidak sia-sia, kau telah memperlihatkan dunia untukku. Kau telah melihat seluruh dunia dengan mataku. Aku bangga padamu Nak”
Aku tutup kertas itu, memandang wajah Ibuku yang buta. Aku tidak bisa berkata-kata lagi.

Hari Ibu, 22 Desember 2008
Sumber : Aku lupa, pokoknya pernah baca di internet terus aku ingat maka ku tulis.