Suatu hari ketika aku masih sekolah, satu peristiwa yang paling kuingat adalah ketika tiba-tiba ibuku datang sambil membawakan payung karena hari itu mendung. Aku sangat membenci hari itu, bagaimana tidak, ibuku hanya mempunyai satu mata, dan itu membuatku malu dihadapan teman-temanku. Entahlah, sejak saat itu aku menjadi snagat membencinya.
Sebenarnya aku memendam kemarahanku ini. Aku masih tau diri kalau ia ibuku maka harus kuhormati. Tapi ini keterlaluan, mengapa juga ia buta? Tidak normal seperti ibu teman-temanku yang lain? Dan kemarahan itu ibarat sebuah lahar dalam gunung berapi yang mengendap-endap terus mencari sela agar bisa keluar. Dan sela itu ada ketika ibuku datang mengambil raport terakhirku, kelas enam SD. Kemarahanku membeludak, saat pulang, aku memarahi ibuku. Aku berkata ”Mengapa sih Ibu datang tadi pagi? Bukankah sudah kubilang kalau Ibu enggak usah datang? Dan mengapa Ibu buta? Ibu tahu kalau Ibu telah membuatku malu didepan teman-temanku? Mengapa ibu tidak mati sekalian?”
Aku tahu dan sadar, itu sangat keterlaluan. Dan aku tahu pula, pada detik itu juga, hati Ibuku remuk redam. Tapi paling tidak aku telah mengungkapkan rasa yang kupendam bertahun-tahun ini, dan aku bisa bernafas lega.
Maka sejak hari kelulusanku itu, aku meminta kepada Ibuku agar membiayaiku sekolah keluar kota. Aku ingin sekolah ke kota agar Ibu tidak bisa datang menjengukku untuk mempermalukanku lagi. Dan aku menikmati sekolah baruku. Aku belajar dengan tekun, aku ingin keluar negeri agar aku semakin bertambah jauh dari ibuku yang buta. Dan akhirnya cita-citaku tercapai juga.
Pada akhir semester kelas XII aku di tawari sekolahku untuk beasiswa kuliah ke Jepang. Tentu saja aku terima dengan senang hati. Kini aku tidak lagi mengharapkan izin dari Ibuku yang buta itu terlalu banyak karena aku sudah bisa membiayai kuliahku disana. Aku terbang tanpa diiringi Ibuku. Ibuku saya suruh tetap di desa dan jangan sekali-kali menjengukku ke sekolahan. Dan Ibuku menuruti permintaanku tersebut.
Hingga kemudian aku telah sukses menjadi pengusaha di Jepang dan banyak keliling dunia. Tiba-tiba entah aku tidak tahu bagaimana bisa, Ibuku berada di rumahku yang ada di Jepang saat aku pulang dari perjalanan ke luar negeri. Aku terhenyak, karena malu pada isteri dan anak-anakku, maka aku berpura-pura tidak mengenalnya dan mengusirnya dari rumahku tersebut. ”Pergi dari sini, aku tidak mengenalmu. Jangan mengaku aku anakmu!” ucapku sambil berkacak pinggang. Sungguh aku benar-benar telah melakukannya. Hingga kemudian Ibuku yang masih saja buta itu pergi dengan linangan air mata. Tapi tetap saja itu tidak menggetarkan hatiku.
Tidak seperti biasa, tahun ini teman-teman ingin mengadakan reuni SMA. Aku memang belum pulang sejak enam tahun. Maka dengan alasan kerja, aku pamit kepada isteri. Aku terbang lagi ke sekolahanku dan dilain hari aku mengunjungi desaku, rumahku, tempat Ibuku yang buta.
Masih saja seperti dulu, rumah tua berdinding bambu. Aku masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu karena pintu itu tidak di kunci sama seperti dulu. Kutemukan Ibuku entah tertidur atau pingsan diatas kursi sambil menggenggam sehelai kertas. Aku sama sekali tidak iba kepadanya, entahlah. aku membuka genggamannya, dan membaca isi kertas tersebut.
”Anakku, aku senang kau pulang. Aku senang melihat kau telah berhasil di perantauan. Sekarang aku tidak akan menganggumu lagi, aku sudah tahu Jepang tempat tinggalmu meskipun sempit tapi begitu indah. Aku bangga padamu Nak. Dulu waktu kecil, kau terjatuh dan mengakibatkan matamu bengkak hingga tidak bisa melihat. Seluruh harta kekayaan yang ada waktu itu habis untuk membiayaimu. Tapi sayangnya kau tidak juga sembuh. Kau buta waktu itu. Akhirnya aku mengalah, kuhadiahkan mataku untukmu. Ternyata tidak sia-sia, kau telah memperlihatkan dunia untukku. Kau telah melihat seluruh dunia dengan mataku. Aku bangga padamu Nak”
Aku tutup kertas itu, memandang wajah Ibuku yang buta. Aku tidak bisa berkata-kata lagi.
Hari Ibu, 22 Desember 2008
Sumber : Aku lupa, pokoknya pernah baca di internet terus aku ingat maka ku tulis.