Aku berbaring menahan tangis. Kejadian itu begitu cepatnya, hidup ini berganti bagai detik yang berjalan. Satu detik sekarang akan sangat berbeda dengan detik berikutnya. Aku masih ingat kicau burung dipagi hari nan asri, pegunungan, pantai, dan angkasa raya yang terbentang. Namun detik berlalu dan membawaku ke dalam kegelapan yang hampir selamanya ini. Delapan minggu katanya? Delapan minggu dengan mata berbalut kain putih tebal? O Tuhan, aku menyesal tidak mengucapkan terima kasih atas penglihatan yang telah Engkau berikan selama sembilan belas tahun ini.
Di sebuah rumah sakit di Surabaya aku tergolek lemah. Hanya pasrah yang bisa aku lakukan. Sangat terasing, kesepian, dan putus asa. Dunia ini menjadi gelap ketika kepalaku terasa pening akibat hantaman bola basket teman-teman sekelasku. Mataku berkunang-kunang dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap hingga dokter itu mengucapkan kalau aku mengalami gangguan syaraf mata. Aku bangun dan sama sekali tidak bisa lagi melihat. Hanya ucapan, rabaan, dan bisik-bisik di tempat yang jauh. Kehidupanku sepertinya berakhir disini, bahkan ketika keluargaku seluruhnya bergantian menjagaku dengan kasih sayang. Aku membisu, air mata sepertinya ingin ku keluarkan, tapi itu dilarang oleh dokter agar tidak terus mengganti perban yang membalut mataku. Perbanku hanya bisa diganti satu minggu sekali kalau ingin sembuh katanya. Bahkan untuk menangispun aku tidak diperbolehkan. Betapa menyengsarakannya hidupku kini.
Setiap hari aku hanya bisa berbaring menanti detik yang berjalan lambat, sungguh terasa bertahun-tahun. Pada hari yang kelima, suster mengatakan padaku kalau akan ada teman sekamar esok hari. Aku tidak mempedulikannya, aku tidak ingin dunia tahu bahwa aku buta, tidak juga teman sekamarku besok. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Akhirnya aku berusaha untuk menerima kenyataan ini meskipun tidak secara benar-benar. Suka ataupun tidak, nyatanya teman sekamarku itu tiba tepat waktu. Aku tidak sendirian lagi, tapi apa bedanya? Aku toh tidak mengharapkan teman sekamar?.
Sejak dia datang dan selalu punya cara untuk menertawakan dunia ini aku menjadi ikut terhibur. Pengalamannya membaca buku cerita diceritakan ulang kepadaku, dan itu sangat mengasyikkan. Meski aku masih menyesali apapun yang terjadi dengan mataku, paling tidak kini ada yang bisa menghiburku sekali-kali. Walaupun ketika pertama kali ia melakukan kekonyolan itu, menurutku adalah hal terbodoh yang bisa dilakukan laki-laki. Satu minggu berikutnya baru aku bisa tertawa bersamanya. Aku menyukai lelaki konyol itu, membayangkan wajahnya seperti Mr. Bean bila berbicara menirukan suara-suara tokoh yang diceritakannya. Itulah bagian terlucu dari semua omongannya. Berawal dari kekonyolan-kekonyolan yang ditimbulkannya, kami menjadi merasa lebih akrab. Kuulangi, meskipun satu minggu kemudian. Dan Ia berhasil membuatku tertawa.
Kukenalkan teman baruku itu pada ayahku yang menjengukku pada minggu berikutnya. Juga ketika teman-temanku dari kampus datang, mereka kukenalkan pada lelaki disampingku itu. Mereka juga tertawa ketika lelaki itu berulah dengan seloroh-selorohnya. Mereka terpingkal-pingkal mendengar ceritanya mengenaiku yang kalau ke kamar mandi meski dituntun dan terjatuh-jatuh membentur tembok. Suasana memang sepenuhnya berubah sejak keberadaannya di ranjang sampingku itu, namun aku selalu bersedih ketika malam tiba jika aku mengingat mataku yang tak kunjung sembuh. Kadang aku membayangkan diriku akan buta selamanya. Jika sudah begitu, semalaman aku akan mimpi buruk.
Suatu pagi, pacarku datang membawa sebingkai bunga dan makanan. Ia meletakkannya disisiku dengan hati-hati. Mr. bean, lelaki disamping ranjangku itu tahu kalau kami membutuhkan ketenangan. Ia tidak bersuara sama sekali, hampir aku yakin kalau ia tidak berada disana waktu itu. Aku berkata kepada pacarku itu, kalau aku akan buta selamanya. Aku hanya mengetes kesungguhannya saja, tidak lebih. Mana mungkin aku mau buta selamanya? Dan ia tidak bereaksi sama sekali. Lama aku menunggu jawabannya, namun tak kunjung keluar suara dari mulutnya.
“Masihkah kau bertahan denganku?” tanyaku kemudian. Mungkin ini pertanyaan tersulit yang harus dijawabnya. Ia terdiam lebih lama lagi. Sebagai wanita memang aku membutuhkan jawaban atas pertanyaan ini. Bila ia memang mencintaiku, tentu ia tidak akan segan untuk menjawab ‘ya’. Namun aku sudah tahu jawabannya dengan kediamannya ini. Betapa hancur hatiku, tapi aku menyembunyikannya.
“Tidak apa-apa sayang, kalau memang kau menghendaki kita putus” ucapku mencoba memancingnya. Tentu aku berharap ia tidak akan memutuskan hubungan yang telah terjalin selama satu tahun ini. Tiba-tiba saja ia bangkit dan berkata maaf. Ia kemudian pergi meninggalkanku. Aku terpaku menyaksikan kejadian ini, begitu cepatnya detik perpisahan ini. Baru kemarin ia mengecup keningku sambil mengucapkan kalau ia tetap mencintaiku, tapi sekarang ia pergi begitu saja, hanya mengucapkan maaf. Aku terisak dalam keheningan pagi itu. Aku masih tidak percaya, detik berganti dan takdir terputus demikian cepatnya.
“Jangan kau keluarkan air mata lagi Fathin. Itu akan membuatmu lebih lama lagi untuk bisa membuka matamu. Biarkan saja lelaki itu pergi, kau akan baik-baik saja, percayalah!” ucap temanku dari samping. Aku masih terkejut dan belum bisa menyadari sepenuhnya keberadaanku. Ia bangkit dan duduk disamping ranjangku, aku bisa merasakannya.
“Kau akan baik-baik saja. Kau tidak membutuhkan lelaki itu” bisiknya didekat telingaku. Aku berusaha untuk menghentikan air mata. Kusandarkan tubuhku padanya, ia memelukku dengan penuh kasih. “Kau beruntung masih punya keluarga yang akan selalu menyayangimu. Juga teman-temanmu, sahabat-sahabatmu yang setiap waktu datang menjengukmu. Mari kubacakan surat-surat dari temanmu yang masih tersisa. Tentu kau akan tahu kalau masih banyak yang bertahan disisimu dari pada yang akan meninggalkanmu” bisiknya perlahan.
O Tuhan, rasanya tentram sekali mempunyai sahabat seperti lelaki ini. Aku rasakan kata-katanya mampu menguatkanku. Perlahan ia melepaskanku dari pelukannya yang hangat dan mulai menyortir surat-surat yang katanya tinggal beberapa amplop. Ia membacakan untukku kata-kata sayang dari teman-temanku dan keluargaku. Namun yang kubayangkan itu keluar dari mulutnya sendiri, bukan dari membaca surat. Ia membacanya nyaris sempurna, seperti mendengar sendiri temanku mengucapkannya, atau memang ia sendiri yang mengungkapkannya.
Aku masih menatap ke depan kalau aku sadar mataku bisa melihat. Aku menerawang jauh kedepan, aku telah diputus olehnya yang kucintai. Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau ia akan meninggalkanku seperti ini? Hampa sekali rasanya, kali ini lelucon-leucon temanku itu tidak mampu mendobrak kesedihanku. Aku tertidur kemudian, aku kelelahan. Selebihnya yang ada hanyalah keadaanku yang semakin buruk. Perban harus berkali-kali diganti. Sudah empat minggu namun aku masih menangis. Lelaki itu setiap saat menghiburku, mengatakan kalau aku tidak boleh sedih. Aku selalu memikirkan kalau ia hanya asal berkata saja, tentu berbicara lebih mudah dari pada mengalaminya.
“Fathin, kurasa aku berkata untuk yang terakhir kalinya, jangan kau bersedih, masih banyak yang menyayangimu melebihi lelaki sialan yang meninggalkanmu itu! Meskipun matamu tidak bisa melihat, namun rasakanlah sekitarmu, lihatlah dengan hatimu kalau mereka datang menjengukmu membawa harapan untuk kesembuhanmu” katanya pada akhir minggu kelima. Aku sedikit terganggu dengan ucapannya yang mengatakan lelaki yang telah kucinta selama satu tahun ini sialan. Aku merenung, beberapa menit berlalu dan kutahu ia benar. Lelaki itu memang sialan, dan keluargaku masih bergantian menjagaku kalau malam, teman-temanku masih sering berkunjung untuk kesembuhanku. Aku mulai menyadari hal-hal kecil yang selama ini terlewati dengan bantuan lelaki itu. Lebih banyak bersyukur dan tidak lagi menganggap remeh apapun, “semuanya terasa lebih indah kalau dihayati” katanya.
Waktu itu baru aku sadar kalau ia datang ke rumah sakit bukan untuk menemaniku. Tentu ia kesini untuk berobat juga. Dan aku terlalu egois untuk tidak bersimpati padanya. Aku terlalu tenggelam dalam kesedihan sampai tidak sempat menanyakan keadaannya. Ternyata aku tidak mempunyai perasaan sama sekali. Aku juga tidak pernah menyadari kalau ia tidak pernah sekalipun dikunjungi, entah keluarga, kerabat, ataupun teman. Ia selalu mengatakan bahwa aku beruntung karena ia merasakan kepedihan tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Memang sudah terlanjur kebodohanku, kemudian aku bangkit dan mencoba tersenyum kearahnya. Tapi tidak ada reaksi darinya.
“Sudah sorekah ini?” Pikirku. Iya, tentu ia sudah tidur karena kelelahan menemaniku. Aku masih tersenyum dan menyusulnya tidur. Kutekadkan bahwa jika aku membuka mata besok, yang pertama akan kuucapkan adalah terimakasihku padanya.
Namun Tuhan tidak bisa memberikan waktu yang sangat berharga itu, karena keesokan harinya kain pembatas sudah dipasang. Dan kudengarkan mereka membaca doa tahlil untuknya. Aku bergeming mendengar suara-suara hiruk pikuk disamping ranjangku tersebut. Betapa cepatnya detik berganti dan mengubah segalanya. Kini hanya bersisa dua minggu disini, namun yang kurasakan ini lebih lama dari waktu yang telah berlalu. Aku akan merasakan kegelapan yang lebih buruk lagi, lebih gelap dari pada waktu pertama kali mataku diperban. Sahabat yang hampir kukatakan aku mencintainya kini telah berpindah tempat, tinggal raganya yang meregang menyaksikan keputusasaanku.
“Kau harus sembuh Fathin!”
“Kau harus sembuh!”
“Kau harus sembuh!”
Aku mendengarkan suara itu, samar dari tempat yang jauh. Masih kudengar doa mengalun di ujung jalan. Suara yang sangat kukenal, wajah yang kubayangkan seperti Mr. Bean itu. Aku menangis lagi, benar-benar tangisan untuk yang terakhir kali karena kemudian aku bertekad ingin sembuh.
Ternyata itu menjadi sembilan minggu yang melelahkan. Tuhan memberiku bonus satu minggu untuk kesembuhanku, dan pada minggu yang terakhir hari Sabtu yang cerah, keluargaku dan sebagian teman-temanku berkumpul di rumahku untuk membuka ikatan perban yang membalut mataku. Ketika perban itu lepas, kurasakan ada nafas yang tertahan disekelilingku. Aku tersenyum membayangkan wajah mereka yang tegang menunggu aku membuka mata.
Ada titik titik terang di mataku, samar seperti kabut diujung pegunungan. Aku tahu kalau aku akan bisa melihat pada hari itu juga, tapi aku lebih suka terpejam. Kemudian aku mengucapkan syukur pada Tuhan, pada sahabatku di rumah sakit dulu, dan pada semua keluargaku. Ada perasaan galau yang mendalam dihatiku, tentang lelaki yang masih menjadi sebuah penyesalanku itu. Beberapa menit aku mencoba membuka mata kembali. Sedikit demi sedikit, titik-titik terang semakin banyak dan akhirnya aku bisa mengenali wajah-wajah yang tersenyum. Ayah dan ibuku langsung memelukku, teman-temanku bersorak dan aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
“O ya, apakah aku sudah boleh menangis?” tanyaku serius. Ayah dan ibuku berpandangan, temanku juga. Tapi tidak lama, mereka kemudian tertawa terbahak-bahak dan kembali memelukku.
“Ya, sekarang menangislah sepuasnya” bisik ibuku sambil menyerahkan sebuah surat dalam amplop. Aku termenung, ini dari teman sekamarku itu. Suasana yang semarak itu tiba-tiba menjadi sepi. Seharusnya surat itu diberikan kepadaku kalau aku sudah merasakan kebahagiaan. Tapi terlanjur sudah, surat itu kupegang dengan gemetar. Orang-orang berteriak namun aku tidak mampu mendengar mereka. Hatiku seperti hilang, ada kehampaan yang sangat disana. Aku beranjak ke kamar, entah apa yang ingin kulakukan, tapi aku ingin sendirian. Jauh kutatap awan, sebuah senyum tersemat dan hilang dibawa angin. Dia luar biasa, dan Tuhan terlalu cepat mengambilnya. Apakah ia memang hanya diciptakan untuk menemaniku hingga sembuh? Dia kini tiada, namun semangatnya tetap ada, kugenggam dengan erat.
Surat itu tidak pernah kubaca karena selalu menimbulkan penyesalan yang menyapu kebahagiaanku.
Kegiatan-kegiatanku semakin lama semakin padat. Aku kembali hidup di dunia nyata. Kuliah dengan segala kesibukannya, bekerja di radio kampus, magang di perusahaan, dan sekali-kali menonton film di bioskop. Sangat sulit meluangkan waktu meskipu hanya untuk bernafas di daerah pegunungan. Tentu saja selama aku disini paru-pruku hanya diisi dengan polusi. Suatu perjuangan hidup yang tidak kenal ampun.
Pada malam hari yang membosankan, di kamarku aku termenung. Masih ada sisa luka yang belum bisa tersembuhkan. Meski melewati berbagai waktu, namun detik yang mengungkap tentang luka dan sesal itu belum juga berganti. Kalau aku sendirian, maka sudah pasti aku teringat lelaki itu. Bagaimana mungkin aku begitu bodoh, selama enam minggu bersamanya aku tidak mengenalnya sama sekali, bahkan namanya sekalipun. Aku mengambil buku harianku, kutulis bahwa aku mengharapkan kehadirannya. Aku merindukan semangat-semangat yang di ucapkannya. Beriringan dengan air mata aku terkenang akan semangat yang tidak pernah pupus. Saat aku akan menulis tentang kenangan, barulah aku mengingat surat itu. Surat yang belum sempat kubaca selama tiga tahun ini. Inilah kebodohanku selanjutnya yang membuatku terjebak dalam lubang kesedihan.
Kubongkar semua buku yang bisa kugapai. Kupilah semuanya menjadi beberapa bagian. Kubalik lembaran-lembarannya, kuangkat, kujatuhkan, kusisir, kupukulkan dimeja, namun hasilnya nihil. Aku tersungkur, bagaimana aku bisa melupakannya? Aku terisak kemudian, hapeku berdering namun aku tidak menghiraukannya. Kamarku berantakan, lemari sudah kugeledah, rak-rak buku, kolong ranjang, dan semuanya. Nihil.
Pikiranku kalut ketika aku mengingat buku yang kugunakan menyimpannya “Itu buku perpustakaan kampus!” pekikku. “Oh Tuhan, ampuni aku…!” desisku sambil memegang kepala. Rasanya aku mau pingsan, tiga tahun tentu lama menurutku. Dan buku itu berada di perpustakaan. Pasti, akan sangat sulit menemukannya di dalam tumpukan buku-buku yang begitu banyak. Kalau saja malam hari perpustakaan buka, dalam kegelapanpun aku akan ke sana. Aku harus rela duduk sebentar, merebahkan tubuhku diatas ranjang dan memejamkan mata. Namun sampai jauh tengah malam, tidur malam ini merupakan hal tersulit untuk kulakukan selama hidupku.
Aku sudah bangun pada pukul tiga pagi. Bingung dengan perbuatanku yang tidak terkontrol, sepertinya aku tidak sadar pagi itu. Aku mondar-mandir dalam kamar, berulang kali melihat jam tangan, jam HP, dan jam dinding, kemudian kembali ke jam tangan. Sesekali keluar dan mengamati matahari yang tidak bangun-bangun. Aku meradang, bahkan sebuah mataharipun tidak bersimpati padaku. Dan keringatku yang seperti butir jagung hibrida mermunculan mengalahkan orang yang berlari-lari di pagi hari.
Mandi merupakan hal terlama dan mengasyikkan yang bisa kulakukan. Syukur aku harus buang air besar kala itu. Menyenangkan rasanya bisa membunuh waktu yang kau intai setiap saat. Kini matahari menampakkan senyumannya. Aku cepat dandan dan berangkat. Tentu saja teman-teman kosku heran sambil menyeka lendir yang memenuhi mulut mereka. Aku tidak peduli.
Masih jam tujuh pagi, terlalu pagi untuk beragkat kuliah memang. Tapi aku sudah punya cara untuk kembali memperdaya waktu agar cepat beranjak. Aku akan jalan kaki ke kampus. Mendebarkan kalau aku bisa melakukannya. Dengan begitu aku akan sampai tepat waktu didepan perpustakaan. Jam delapan lebih aku sampai dan mulai browsing buku yang pernah kuingat.
Tiga tahun, tentu buku telah berganti. Atau minimal sudah rusak dan dimasukkan ke gudang. Dan aku mencari buku dari rak pertama sampai rak nomor tiga yang panjangnya lima meter dan enam tingkat. Memang buku-buku komunikasi hanya mempunyai tiga rak, meskipun hanya tiga rak tersebut bukan berarti aku beruntung. Tetap aku harus meninggalkan kuliahku dan seharian membanting tulang dan memeras keringat untuk mencarinya. Pada akhirnya aku melapor dengan malu-malu pada petugas.
“Tiga tahun? Apa kau sudah gila?” Tanya petugas wanita itu. Tentu pada sesama wanita ia judes minta ampun. Tapi kalau yang bertanya laki-laki, apalagi tampan, ia akan selembut sutra. Aku terpaksa nyengir, apa yang harus aku lakukan?
“Kalau cerita itu memang benar, sebaiknya kau ke Pak Sulaiman di ruangan samping itu!” katanya kemudian sambil menunjuk ke ruangan kepala perpustakaan.
Dengan ragu dan berdebar aku memasuki ruangan itu. Pak Sulaiman tersenyum dari jauh kepadaku. Aku masih berdebar meskipun wajahnya menunjukkan keramahan.
“Ada yang bisa di bantu dik?”
Aku duduk mendekat di hadapannya. Kursi berdenyit-denyit karena aku gugup. “Eh iya Pak, saya tadi menanyakan tentang kertas saya yang tertinggal di buku public relation tiga tahun yang lalu pada karyawan, katanya suruh melapor ke Bapak saja” ucapku. Sungguh sulit menyusun kata-kata tersebut.
“Kertas? Bisa lebih spesifikasi lagi?”
“Anu, sebenarnya sebuah surat. Sampul biru laut”
Kemudian ia menatapku erat-erat. Aku semakin gugup. “Benarkah itu milikmu?” tanyanya tanpa melepaskan pandangannya dariku. Keringatku kini melebihi jagung hibrida.
“I…iya Pak, saya lupa waktu mengembalikannya kemari tidak diperiksa”
Dari laci di meja depanku, Pak Sulaiman mengeluarkan surat tersebut. Aku gemetaran. Surat itu ia letakkan di meja tempat kami berbicara. Dengan cepat kuraih dan kusobek sampulnya. Bukan kertas didalamnya, tapi tisu toilet rumah sakit dan ia menggunakan lipstick untuk merangkai hurufnya. Air mata menetes tanpa ku kontrol. Dunia ini berputar dengan hebat, kepalaku pening. Tapi aku bertahan.
“Kamu tahu, bahwa Tuhan tidak pernah memberikan kepada kita sebuah impian tanpa kemampuan untuk mewujudkannya. Aku memimpikanmu sepanjang malam, dan kuyakin kalau kamu akan dapat merasakannya. Tapi mungkin hidupku tidak akan lama, kamu tertidur nyenyak malam ini, aku tentu tidak sampai hati membangunkanmu. Bila kau sudah bisa membuka matamu, temuilah aku di gedung tuaku, jl. Kemarau panjang no. 1. Aku menunggumu disana.”
“Jangan menyesalkan apapun. Aku tahu ia lelaki yang baik, motivasinya untuk hidup begitu besar. Aku telah bertemu dengannya karena surat ini. Aku telah membacanya karena ingin tahu ini milik siapa, tapi disana tidak ada nama” lanjut Pak Sulaiman. Aku tertegun.
“Tentu aku pergi ke alamat itu dan mengatakan kalau aku menemukannya disini. Pasti ada mahasiswa yang lupa, kami sudah mengumumkannya tiga tahun yang lalu. Dan tidak seorangpun yang menanggapi surat ini. Hingga kini kau datang” lanjutnya.
Aku bergeming, “Sekarang ia dimana?” tanyaku sambil menundukkan kepala. Air mataku masih terus keluar meskipun aku berjuang menghentikannya.
Pak Sulaiman terdiam cukup lama, dengan enggan ia kembali bercerita “Dia selalu duduk di depan rumahnya menantikanmu. Kalau saja bisa, mungkin ia akan menghabiskan waktu disana sampai sekarang, tapi Tuhan memberikannya waktu hanya dua minggu. Kemudian ia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada saat kunjunganku yang ke sepuluh. Aku mencari identitasmu sampai ke rumah sakit namun hasilnya tidak bisa di lacak” ia bangkit dan menghampiriku.
“Saya minta maaf!” ucapnya perlahan sambil memegang pundakku. Aku semakin keras menangis, tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan. Detik yang berganti terlalu cepat ini membawa kepedihan yang dalam di hatiku.
“Jangan menangis lagi, saya tahu kalau lelaki itu tidak mengharapkannya. Ia sangat mencintaimu Fathin, kalau kau mau tahu”.
Aku mengangguk. Kehilangan ini terasa lebih menyakitkan dari semua yang telah terjadi dalam hidupku. Setelah itu, aku menjadi wanita yang lupa bagaimana caranya tersenyum.

