Lubang Kesedihan

“Sangat menyakitkan kalau aku bisa mengenang suaramu, membayangkan wajahmu, dan mengetahui kalau aku begitu bodoh membiarkan kau pergi tanpa ucapan perpisahan sepatahpun!”


Aku berbaring menahan tangis. Kejadian itu begitu cepatnya, hidup ini berganti bagai detik yang berjalan. Satu detik sekarang akan sangat berbeda dengan detik berikutnya. Aku masih ingat kicau burung dipagi hari nan asri, pegunungan, pantai, dan angkasa raya yang terbentang. Namun detik berlalu dan membawaku ke dalam kegelapan yang hampir selamanya ini. Delapan minggu katanya? Delapan minggu dengan mata berbalut kain putih tebal? O Tuhan, aku menyesal tidak mengucapkan terima kasih atas penglihatan yang telah Engkau berikan selama sembilan belas tahun ini.

Di sebuah rumah sakit di Surabaya aku tergolek lemah. Hanya pasrah yang bisa aku lakukan. Sangat terasing, kesepian, dan putus asa. Dunia ini menjadi gelap ketika kepalaku terasa pening akibat hantaman bola basket teman-teman sekelasku. Mataku berkunang-kunang dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap hingga dokter itu mengucapkan kalau aku mengalami gangguan syaraf mata. Aku bangun dan sama sekali tidak bisa lagi melihat. Hanya ucapan, rabaan, dan bisik-bisik di tempat yang jauh. Kehidupanku sepertinya berakhir disini, bahkan ketika keluargaku seluruhnya bergantian menjagaku dengan kasih sayang. Aku membisu, air mata sepertinya ingin ku keluarkan, tapi itu dilarang oleh dokter agar tidak terus mengganti perban yang membalut mataku. Perbanku hanya bisa diganti satu minggu sekali kalau ingin sembuh katanya. Bahkan untuk menangispun aku tidak diperbolehkan. Betapa menyengsarakannya hidupku kini.

Setiap hari aku hanya bisa berbaring menanti detik yang berjalan lambat, sungguh terasa bertahun-tahun. Pada hari yang kelima, suster mengatakan padaku kalau akan ada teman sekamar esok hari. Aku tidak mempedulikannya, aku tidak ingin dunia tahu bahwa aku buta, tidak juga teman sekamarku besok. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Akhirnya aku berusaha untuk menerima kenyataan ini meskipun tidak secara benar-benar. Suka ataupun tidak, nyatanya teman sekamarku itu tiba tepat waktu. Aku tidak sendirian lagi, tapi apa bedanya? Aku toh tidak mengharapkan teman sekamar?.

Sejak dia datang dan selalu punya cara untuk menertawakan dunia ini aku menjadi ikut terhibur. Pengalamannya membaca buku cerita diceritakan ulang kepadaku, dan itu sangat mengasyikkan. Meski aku masih menyesali apapun yang terjadi dengan mataku, paling tidak kini ada yang bisa menghiburku sekali-kali. Walaupun ketika pertama kali ia melakukan kekonyolan itu, menurutku adalah hal terbodoh yang bisa dilakukan laki-laki. Satu minggu berikutnya baru aku bisa tertawa bersamanya. Aku menyukai lelaki konyol itu, membayangkan wajahnya seperti Mr. Bean bila berbicara menirukan suara-suara tokoh yang diceritakannya. Itulah bagian terlucu dari semua omongannya. Berawal dari kekonyolan-kekonyolan yang ditimbulkannya, kami menjadi merasa lebih akrab. Kuulangi, meskipun satu minggu kemudian. Dan Ia berhasil membuatku tertawa.

Kukenalkan teman baruku itu pada ayahku yang menjengukku pada minggu berikutnya. Juga ketika teman-temanku dari kampus datang, mereka kukenalkan pada lelaki disampingku itu. Mereka juga tertawa ketika lelaki itu berulah dengan seloroh-selorohnya. Mereka terpingkal-pingkal mendengar ceritanya mengenaiku yang kalau ke kamar mandi meski dituntun dan terjatuh-jatuh membentur tembok. Suasana memang sepenuhnya berubah sejak keberadaannya di ranjang sampingku itu, namun aku selalu bersedih ketika malam tiba jika aku mengingat mataku yang tak kunjung sembuh. Kadang aku membayangkan diriku akan buta selamanya. Jika sudah begitu, semalaman aku akan mimpi buruk.

Suatu pagi, pacarku datang membawa sebingkai bunga dan makanan. Ia meletakkannya disisiku dengan hati-hati. Mr. bean, lelaki disamping ranjangku itu tahu kalau kami membutuhkan ketenangan. Ia tidak bersuara sama sekali, hampir aku yakin kalau ia tidak berada disana waktu itu. Aku berkata kepada pacarku itu, kalau aku akan buta selamanya. Aku hanya mengetes kesungguhannya saja, tidak lebih. Mana mungkin aku mau buta selamanya? Dan ia tidak bereaksi sama sekali. Lama aku menunggu jawabannya, namun tak kunjung keluar suara dari mulutnya.

“Masihkah kau bertahan denganku?” tanyaku kemudian. Mungkin ini pertanyaan tersulit yang harus dijawabnya. Ia terdiam lebih lama lagi. Sebagai wanita memang aku membutuhkan jawaban atas pertanyaan ini. Bila ia memang mencintaiku, tentu ia tidak akan segan untuk menjawab ‘ya’. Namun aku sudah tahu jawabannya dengan kediamannya ini. Betapa hancur hatiku, tapi aku menyembunyikannya.

“Tidak apa-apa sayang, kalau memang kau menghendaki kita putus” ucapku mencoba memancingnya. Tentu aku berharap ia tidak akan memutuskan hubungan yang telah terjalin selama satu tahun ini. Tiba-tiba saja ia bangkit dan berkata maaf. Ia kemudian pergi meninggalkanku. Aku terpaku menyaksikan kejadian ini, begitu cepatnya detik perpisahan ini. Baru kemarin ia mengecup keningku sambil mengucapkan kalau ia tetap mencintaiku, tapi sekarang ia pergi begitu saja, hanya mengucapkan maaf. Aku terisak dalam keheningan pagi itu. Aku masih tidak percaya, detik berganti dan takdir terputus demikian cepatnya.

“Jangan kau keluarkan air mata lagi Fathin. Itu akan membuatmu lebih lama lagi untuk bisa membuka matamu. Biarkan saja lelaki itu pergi, kau akan baik-baik saja, percayalah!” ucap temanku dari samping. Aku masih terkejut dan belum bisa menyadari sepenuhnya keberadaanku. Ia bangkit dan duduk disamping ranjangku, aku bisa merasakannya.

“Kau akan baik-baik saja. Kau tidak membutuhkan lelaki itu” bisiknya didekat telingaku. Aku berusaha untuk menghentikan air mata. Kusandarkan tubuhku padanya, ia memelukku dengan penuh kasih. “Kau beruntung masih punya keluarga yang akan selalu menyayangimu. Juga teman-temanmu, sahabat-sahabatmu yang setiap waktu datang menjengukmu. Mari kubacakan surat-surat dari temanmu yang masih tersisa. Tentu kau akan tahu kalau masih banyak yang bertahan disisimu dari pada yang akan meninggalkanmu” bisiknya perlahan.

O Tuhan, rasanya tentram sekali mempunyai sahabat seperti lelaki ini. Aku rasakan kata-katanya mampu menguatkanku. Perlahan ia melepaskanku dari pelukannya yang hangat dan mulai menyortir surat-surat yang katanya tinggal beberapa amplop. Ia membacakan untukku kata-kata sayang dari teman-temanku dan keluargaku. Namun yang kubayangkan itu keluar dari mulutnya sendiri, bukan dari membaca surat. Ia membacanya nyaris sempurna, seperti mendengar sendiri temanku mengucapkannya, atau memang ia sendiri yang mengungkapkannya.

Aku masih menatap ke depan kalau aku sadar mataku bisa melihat. Aku menerawang jauh kedepan, aku telah diputus olehnya yang kucintai. Bagaimana bisa aku tidak tahu kalau ia akan meninggalkanku seperti ini? Hampa sekali rasanya, kali ini lelucon-leucon temanku itu tidak mampu mendobrak kesedihanku. Aku tertidur kemudian, aku kelelahan. Selebihnya yang ada hanyalah keadaanku yang semakin buruk. Perban harus berkali-kali diganti. Sudah empat minggu namun aku masih menangis. Lelaki itu setiap saat menghiburku, mengatakan kalau aku tidak boleh sedih. Aku selalu memikirkan kalau ia hanya asal berkata saja, tentu berbicara lebih mudah dari pada mengalaminya.

“Fathin, kurasa aku berkata untuk yang terakhir kalinya, jangan kau bersedih, masih banyak yang menyayangimu melebihi lelaki sialan yang meninggalkanmu itu! Meskipun matamu tidak bisa melihat, namun rasakanlah sekitarmu, lihatlah dengan hatimu kalau mereka datang menjengukmu membawa harapan untuk kesembuhanmu” katanya pada akhir minggu kelima. Aku sedikit terganggu dengan ucapannya yang mengatakan lelaki yang telah kucinta selama satu tahun ini sialan. Aku merenung, beberapa menit berlalu dan kutahu ia benar. Lelaki itu memang sialan, dan keluargaku masih bergantian menjagaku kalau malam, teman-temanku masih sering berkunjung untuk kesembuhanku. Aku mulai menyadari hal-hal kecil yang selama ini terlewati dengan bantuan lelaki itu. Lebih banyak bersyukur dan tidak lagi menganggap remeh apapun, “semuanya terasa lebih indah kalau dihayati” katanya.

Waktu itu baru aku sadar kalau ia datang ke rumah sakit bukan untuk menemaniku. Tentu ia kesini untuk berobat juga. Dan aku terlalu egois untuk tidak bersimpati padanya. Aku terlalu tenggelam dalam kesedihan sampai tidak sempat menanyakan keadaannya. Ternyata aku tidak mempunyai perasaan sama sekali. Aku juga tidak pernah menyadari kalau ia tidak pernah sekalipun dikunjungi, entah keluarga, kerabat, ataupun teman. Ia selalu mengatakan bahwa aku beruntung karena ia merasakan kepedihan tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Memang sudah terlanjur kebodohanku, kemudian aku bangkit dan mencoba tersenyum kearahnya. Tapi tidak ada reaksi darinya.

“Sudah sorekah ini?” Pikirku. Iya, tentu ia sudah tidur karena kelelahan menemaniku. Aku masih tersenyum dan menyusulnya tidur. Kutekadkan bahwa jika aku membuka mata besok, yang pertama akan kuucapkan adalah terimakasihku padanya.

Namun Tuhan tidak bisa memberikan waktu yang sangat berharga itu, karena keesokan harinya kain pembatas sudah dipasang. Dan kudengarkan mereka membaca doa tahlil untuknya. Aku bergeming mendengar suara-suara hiruk pikuk disamping ranjangku tersebut. Betapa cepatnya detik berganti dan mengubah segalanya. Kini hanya bersisa dua minggu disini, namun yang kurasakan ini lebih lama dari waktu yang telah berlalu. Aku akan merasakan kegelapan yang lebih buruk lagi, lebih gelap dari pada waktu pertama kali mataku diperban. Sahabat yang hampir kukatakan aku mencintainya kini telah berpindah tempat, tinggal raganya yang meregang menyaksikan keputusasaanku.

“Kau harus sembuh Fathin!”

“Kau harus sembuh!”

“Kau harus sembuh!”

Aku mendengarkan suara itu, samar dari tempat yang jauh. Masih kudengar doa mengalun di ujung jalan. Suara yang sangat kukenal, wajah yang kubayangkan seperti Mr. Bean itu. Aku menangis lagi, benar-benar tangisan untuk yang terakhir kali karena kemudian aku bertekad ingin sembuh.

***

Ternyata itu menjadi sembilan minggu yang melelahkan. Tuhan memberiku bonus satu minggu untuk kesembuhanku, dan pada minggu yang terakhir hari Sabtu yang cerah, keluargaku dan sebagian teman-temanku berkumpul di rumahku untuk membuka ikatan perban yang membalut mataku. Ketika perban itu lepas, kurasakan ada nafas yang tertahan disekelilingku. Aku tersenyum membayangkan wajah mereka yang tegang menunggu aku membuka mata.

Ada titik titik terang di mataku, samar seperti kabut diujung pegunungan. Aku tahu kalau aku akan bisa melihat pada hari itu juga, tapi aku lebih suka terpejam. Kemudian aku mengucapkan syukur pada Tuhan, pada sahabatku di rumah sakit dulu, dan pada semua keluargaku. Ada perasaan galau yang mendalam dihatiku, tentang lelaki yang masih menjadi sebuah penyesalanku itu. Beberapa menit aku mencoba membuka mata kembali. Sedikit demi sedikit, titik-titik terang semakin banyak dan akhirnya aku bisa mengenali wajah-wajah yang tersenyum. Ayah dan ibuku langsung memelukku, teman-temanku bersorak dan aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa.

“O ya, apakah aku sudah boleh menangis?” tanyaku serius. Ayah dan ibuku berpandangan, temanku juga. Tapi tidak lama, mereka kemudian tertawa terbahak-bahak dan kembali memelukku.

“Ya, sekarang menangislah sepuasnya” bisik ibuku sambil menyerahkan sebuah surat dalam amplop. Aku termenung, ini dari teman sekamarku itu. Suasana yang semarak itu tiba-tiba menjadi sepi. Seharusnya surat itu diberikan kepadaku kalau aku sudah merasakan kebahagiaan. Tapi terlanjur sudah, surat itu kupegang dengan gemetar. Orang-orang berteriak namun aku tidak mampu mendengar mereka. Hatiku seperti hilang, ada kehampaan yang sangat disana. Aku beranjak ke kamar, entah apa yang ingin kulakukan, tapi aku ingin sendirian. Jauh kutatap awan, sebuah senyum tersemat dan hilang dibawa angin. Dia luar biasa, dan Tuhan terlalu cepat mengambilnya. Apakah ia memang hanya diciptakan untuk menemaniku hingga sembuh? Dia kini tiada, namun semangatnya tetap ada, kugenggam dengan erat.

Surat itu tidak pernah kubaca karena selalu menimbulkan penyesalan yang menyapu kebahagiaanku.

**

Kegiatan-kegiatanku semakin lama semakin padat. Aku kembali hidup di dunia nyata. Kuliah dengan segala kesibukannya, bekerja di radio kampus, magang di perusahaan, dan sekali-kali menonton film di bioskop. Sangat sulit meluangkan waktu meskipu hanya untuk bernafas di daerah pegunungan. Tentu saja selama aku disini paru-pruku hanya diisi dengan polusi. Suatu perjuangan hidup yang tidak kenal ampun.
Pada malam hari yang membosankan, di kamarku aku termenung. Masih ada sisa luka yang belum bisa tersembuhkan. Meski melewati berbagai waktu, namun detik yang mengungkap tentang luka dan sesal itu belum juga berganti. Kalau aku sendirian, maka sudah pasti aku teringat lelaki itu. Bagaimana mungkin aku begitu bodoh, selama enam minggu bersamanya aku tidak mengenalnya sama sekali, bahkan namanya sekalipun. Aku mengambil buku harianku, kutulis bahwa aku mengharapkan kehadirannya. Aku merindukan semangat-semangat yang di ucapkannya. Beriringan dengan air mata aku terkenang akan semangat yang tidak pernah pupus. Saat aku akan menulis tentang kenangan, barulah aku mengingat surat itu. Surat yang belum sempat kubaca selama tiga tahun ini. Inilah kebodohanku selanjutnya yang membuatku terjebak dalam lubang kesedihan.

Kubongkar semua buku yang bisa kugapai. Kupilah semuanya menjadi beberapa bagian. Kubalik lembaran-lembarannya, kuangkat, kujatuhkan, kusisir, kupukulkan dimeja, namun hasilnya nihil. Aku tersungkur, bagaimana aku bisa melupakannya? Aku terisak kemudian, hapeku berdering namun aku tidak menghiraukannya. Kamarku berantakan, lemari sudah kugeledah, rak-rak buku, kolong ranjang, dan semuanya. Nihil.

Pikiranku kalut ketika aku mengingat buku yang kugunakan menyimpannya “Itu buku perpustakaan kampus!” pekikku. “Oh Tuhan, ampuni aku…!” desisku sambil memegang kepala. Rasanya aku mau pingsan, tiga tahun tentu lama menurutku. Dan buku itu berada di perpustakaan. Pasti, akan sangat sulit menemukannya di dalam tumpukan buku-buku yang begitu banyak. Kalau saja malam hari perpustakaan buka, dalam kegelapanpun aku akan ke sana. Aku harus rela duduk sebentar, merebahkan tubuhku diatas ranjang dan memejamkan mata. Namun sampai jauh tengah malam, tidur malam ini merupakan hal tersulit untuk kulakukan selama hidupku.

Aku sudah bangun pada pukul tiga pagi. Bingung dengan perbuatanku yang tidak terkontrol, sepertinya aku tidak sadar pagi itu. Aku mondar-mandir dalam kamar, berulang kali melihat jam tangan, jam HP, dan jam dinding, kemudian kembali ke jam tangan. Sesekali keluar dan mengamati matahari yang tidak bangun-bangun. Aku meradang, bahkan sebuah mataharipun tidak bersimpati padaku. Dan keringatku yang seperti butir jagung hibrida mermunculan mengalahkan orang yang berlari-lari di pagi hari.

Mandi merupakan hal terlama dan mengasyikkan yang bisa kulakukan. Syukur aku harus buang air besar kala itu. Menyenangkan rasanya bisa membunuh waktu yang kau intai setiap saat. Kini matahari menampakkan senyumannya. Aku cepat dandan dan berangkat. Tentu saja teman-teman kosku heran sambil menyeka lendir yang memenuhi mulut mereka. Aku tidak peduli.

Masih jam tujuh pagi, terlalu pagi untuk beragkat kuliah memang. Tapi aku sudah punya cara untuk kembali memperdaya waktu agar cepat beranjak. Aku akan jalan kaki ke kampus. Mendebarkan kalau aku bisa melakukannya. Dengan begitu aku akan sampai tepat waktu didepan perpustakaan. Jam delapan lebih aku sampai dan mulai browsing buku yang pernah kuingat.

Tiga tahun, tentu buku telah berganti. Atau minimal sudah rusak dan dimasukkan ke gudang. Dan aku mencari buku dari rak pertama sampai rak nomor tiga yang panjangnya lima meter dan enam tingkat. Memang buku-buku komunikasi hanya mempunyai tiga rak, meskipun hanya tiga rak tersebut bukan berarti aku beruntung. Tetap aku harus meninggalkan kuliahku dan seharian membanting tulang dan memeras keringat untuk mencarinya. Pada akhirnya aku melapor dengan malu-malu pada petugas.

“Tiga tahun? Apa kau sudah gila?” Tanya petugas wanita itu. Tentu pada sesama wanita ia judes minta ampun. Tapi kalau yang bertanya laki-laki, apalagi tampan, ia akan selembut sutra. Aku terpaksa nyengir, apa yang harus aku lakukan?

“Kalau cerita itu memang benar, sebaiknya kau ke Pak Sulaiman di ruangan samping itu!” katanya kemudian sambil menunjuk ke ruangan kepala perpustakaan.

Dengan ragu dan berdebar aku memasuki ruangan itu. Pak Sulaiman tersenyum dari jauh kepadaku. Aku masih berdebar meskipun wajahnya menunjukkan keramahan.

“Ada yang bisa di bantu dik?”

Aku duduk mendekat di hadapannya. Kursi berdenyit-denyit karena aku gugup. “Eh iya Pak, saya tadi menanyakan tentang kertas saya yang tertinggal di buku public relation tiga tahun yang lalu pada karyawan, katanya suruh melapor ke Bapak saja” ucapku. Sungguh sulit menyusun kata-kata tersebut.

“Kertas? Bisa lebih spesifikasi lagi?”

“Anu, sebenarnya sebuah surat. Sampul biru laut”

Kemudian ia menatapku erat-erat. Aku semakin gugup. “Benarkah itu milikmu?” tanyanya tanpa melepaskan pandangannya dariku. Keringatku kini melebihi jagung hibrida.

“I…iya Pak, saya lupa waktu mengembalikannya kemari tidak diperiksa”

Dari laci di meja depanku, Pak Sulaiman mengeluarkan surat tersebut. Aku gemetaran. Surat itu ia letakkan di meja tempat kami berbicara. Dengan cepat kuraih dan kusobek sampulnya. Bukan kertas didalamnya, tapi tisu toilet rumah sakit dan ia menggunakan lipstick untuk merangkai hurufnya. Air mata menetes tanpa ku kontrol. Dunia ini berputar dengan hebat, kepalaku pening. Tapi aku bertahan.

“Kamu tahu, bahwa Tuhan tidak pernah memberikan kepada kita sebuah impian tanpa kemampuan untuk mewujudkannya. Aku memimpikanmu sepanjang malam, dan kuyakin kalau kamu akan dapat merasakannya. Tapi mungkin hidupku tidak akan lama, kamu tertidur nyenyak malam ini, aku tentu tidak sampai hati membangunkanmu. Bila kau sudah bisa membuka matamu, temuilah aku di gedung tuaku, jl. Kemarau panjang no. 1. Aku menunggumu disana.”

“Jangan menyesalkan apapun. Aku tahu ia lelaki yang baik, motivasinya untuk hidup begitu besar. Aku telah bertemu dengannya karena surat ini. Aku telah membacanya karena ingin tahu ini milik siapa, tapi disana tidak ada nama” lanjut Pak Sulaiman. Aku tertegun.

“Tentu aku pergi ke alamat itu dan mengatakan kalau aku menemukannya disini. Pasti ada mahasiswa yang lupa, kami sudah mengumumkannya tiga tahun yang lalu. Dan tidak seorangpun yang menanggapi surat ini. Hingga kini kau datang” lanjutnya.

Aku bergeming, “Sekarang ia dimana?” tanyaku sambil menundukkan kepala. Air mataku masih terus keluar meskipun aku berjuang menghentikannya.

Pak Sulaiman terdiam cukup lama, dengan enggan ia kembali bercerita “Dia selalu duduk di depan rumahnya menantikanmu. Kalau saja bisa, mungkin ia akan menghabiskan waktu disana sampai sekarang, tapi Tuhan memberikannya waktu hanya dua minggu. Kemudian ia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada saat kunjunganku yang ke sepuluh. Aku mencari identitasmu sampai ke rumah sakit namun hasilnya tidak bisa di lacak” ia bangkit dan menghampiriku.

“Saya minta maaf!” ucapnya perlahan sambil memegang pundakku. Aku semakin keras menangis, tidak tahu apa lagi yang bisa kulakukan. Detik yang berganti terlalu cepat ini membawa kepedihan yang dalam di hatiku.

“Jangan menangis lagi, saya tahu kalau lelaki itu tidak mengharapkannya. Ia sangat mencintaimu Fathin, kalau kau mau tahu”.

Aku mengangguk. Kehilangan ini terasa lebih menyakitkan dari semua yang telah terjadi dalam hidupku. Setelah itu, aku menjadi wanita yang lupa bagaimana caranya tersenyum.

Kesetiaan

Penantianku sempurna untukmu Fathin, kesetiaanku tidak terbatas

Penantianku sempurna untukmu Fathin, kesetiaanku tidak terbatas

”Lelaki sejati menghargai kesetiaan selamanya, pecundang setia saat berdua”

Pagi yang benar-benar suram. Mendung menggelayut secara nyata di atas langit. Mendung sedemikian rupa merayap ke hati kami yang sedang kalut. Kutatap matanya yang sayu, mengharapkan sesuatu yang itu tidak mungkin lagi terjadi. Sudah keputusan yang matang dan telah dipikirkan jauh hari sebelum ini. Seluruh keluargaku setuju dan aku tidak bisa menolaknya. Dan dalam hatiku yang terdalam, ini kurasakan sebagai musibah tanpa ujung.

Tiba-tiba saja ia manatap mataku, aku kaget, segera kupalingkan wajahku. Tapi ia tidak peduli, kemudian dengan kemantapan yang luar biasa berkata ”hapuskan semua keraguan yang menyelubungi hati, kita lepas sejenak beban berat yang menggantung, pastikan bahwa akulah cintamu, karena kuyakin kaulah yang dipilihkan tuhan untuk menghuni hatiku yang telah kujaga bertahun-tahun ini. Kalau bukan engkau, tentulah kau tidak dipertemukan denganku. Semua telah dan akan terjadi, aku dan engkau tenggelam dalam cinta dan tidak ingin jauh lagi. Mari kekasih, kita berjanji setia. Aku akan selalu menyeru namamu pada waktu dan tempat kita pertama dulu bertemu, aku akan selalu mencintaimu sebagaimana pohon mencintai musin hujan” ia berlinangan air mata, aku menangis, terisak meski kucoba untuk menahannya.

Akhirnya rasa maluku tidak bisa kusembunyikan lagi, ia sangat tulus menyatakan itu. Bahkan aku sendiri yang kukira sangat mencintainyapun kini mengaku kalah. Aku terperdaya oleh ucapannya. Aku mengangguk dan aku ucapkan perjanjian, sebuah kesetiaan akan diuji. Kala matahari terbit dan tenggelam, bulan berganti, kala musim bergulir, dan saat tahun keempat dari masa kuliah kami berakhir, perjanjian itu akan bangkit lagi. Aku yakin aku pasti menjaga cinta ini, ia terlalu berharga untuk kutinggalkan.

Setelah mengucapkan itu, kami kembali berdiam diri. Tak pernah kubayangkan bila Tuhan memilihkan aku kekasih ditempat ini. Tidak pernah terbayangkan dan tidak pernah pula kuharapkan. Tapi kenyataan ini berkata seperti ini, pertama bertemu dengannya bagai sebuah drama kehidupan yang hanya ada di televisi. Sebenarnya ini tidak boleh terjadi pada aku yang sangat terjaga dari lelaki manapun dan bagaimanapun. Keluargaku mempunyai peraturan yang ketat tentang lelaki dan perempuan. Dulu ia hanya seorang lelaki compang-camping dan tidak punya motivasi hidup. Ini hanya sebatas dhohir, kalau hatinya akan menjadi sedemikian lembut seperti ini hanya Tuhan dan aku yang tahu. Semua orang akan bisa menyangka bahwa ia lelaki yang patut dikasihani, ia begitu menganggap dunia sebagai hal yang sepele, tidak pernah diperhatikan apalagi dipertahankan mati-matian. Tapi kemudian semuanya berubah ketika ia tiba-tiba mengucapkan kata cinta itu, hatinya kini menjadi sedemikian indah, penampilannya sama seperti dulu, seorang budayawan yang lupa mandi.

”Cerita cinta di Universitas ini telah berakhir” ucapku pelan sambil menerawang daun-daun hijau musim hujan.

Dia menoleh kearahku dengan cepat sambil menggelengkan kepala, senyuman getir ia tahan, ”Tidak, tidak akan pernah berakhir Fathin, selama aku ada disini, selama itu cerita cinta akan dikenang oleh mahasiswa Trunojoyo. Kamu akan lihat, kamu akan mendengar, kamu akan rasakan ketika kau kembali kemari, sebuah keikhlasan, kesetiaan, dan kesucian akan menantimu. Aku menunggu untuk mendapatkanmu, hanya empat tahun kan? Aku tahu kamu tidak akan suka berlama-lama menjadi mahasiswi, ku yakin empat tahun cukup untuk menyelesaikan studimu. Setelah itu, kembalilah ke tempat pertama kali kau mengenal cinta. Kau telah merengkuh hatiku diantara kedua tanganmu, kau yang mengajarkan mataku untuk melihat, telingaku untuk mendengar, dan hatiku untuk mencintaimu, maka mana mungkin aku akan bisa hidup tanpamu? Hidupku akan menjadi buta, tuli dan tidak dapat merasakan apa-apa lagi, apakah yang demikian akan bisa dikatakan hidup? Tentu tidak Fathin, kaulah yang akan memenangkan hatiku”

Setiap kali ia mengatakan sesuatu tentang cinta dan kesetiaan, setiap kali itu aku menangis membayangkan sebuah ketulusan. Aku tidak yakin bisa menjadi Laila atau Juliet, semoga Tuhan mengampuniku, aku harus berusaha menjaga cinta ini. Aku harus menghilangkan keraguanku. Dan bila ketidaksetiaan akan terjadi, semoga Tuhan menghukumku.

Untuk yang terakhir kali, sebelum berpisah, aku ucapkan ”Aku mencintaimu…!” kepadanya. Tidak ada yang bisa kuucapkan selain itu. Aku belum bisa menyusun kata-kata sedemikian rupa akan halnya dia. Hanya itu kurasa, cukup untuk mewakili semua yang ada dihatiku. maka kami berpisah. Hari sudah menjelang malam. Mia, teman dekatku yang baru selesai kuliah telah menantiku diujung jalan simpang lima kampus. Ia tersenyum ke arah lelaki yang duduk disampingku ini sambil menganggukkan kepala, ia sangat menghormatinya, aku tidak tahu kenapa.

***

Pagi itu juga, saat mendung menghilang dari langit dan cuaca cerah, sebuah mobil hitam datang ke kosku. Itu mobil ayahku, yang akan menjemputku sekarang. Aku akan pindah kampus ke Jember. Sebuah universitas yang kuidamkan. Mana mungkin aku bisa berharap akan kuliah di tempat yang sesepi ini? Meski ini nanti akan menjadi kota besar dan persaingan ketat bila jembatan suramadu yang memakan banyak jiwa itu jadi, tapi kita butuh beradaptasi lagi dengan lingkungan baru yang kurasa akan sangat menyita waktu itu.

Aku menyambut kedua orang tuaku dengan sepenuh hati, tapi entahlah, bayangan lelaki ceking itu menghantuiku terus, aku bingung menentukan hatiku. Tapi mereka tentu tidak merasakannya, aku akan memendamnya. Bukankah hati wanita sedalam lautan yang paling dalam? Dan hanya setengah jam untuk basa-basi dengan pemilik kos, kemudian kami sekeluarga meluncur untuk meninggalkan kos ini selamanya.

didepan kosku, kulihat dari kaca spion, lelaki itu, lelaki yang sangat kucintai atau sangat mencintai aku itu sedang menangis, sangat jelas air matanya menetes kepipinya. Baru kali ini kulihat ia menangis, begitu sedihkah ia kutinggalkan?. Dalam kehidupannya, yang kutahu ia sangat apathis, tidak begitu perduli dengan apa yang terjadi, ia acuh tak acuh, tapi sekarang, aku merasa menjadi wanita yang paling sempurna di dunia ini. Ia menangis hanya untukku, oh Tuhan, ia menangis hanya untukku. Sedangkan aku, antara bahagia dan sedih aku tidak bisa memutuskan, tapi aku memang munafik. Padahal inilah yang kunantikan dalam hidupku. Kuliah di Universitas terbaik. Dan aku bahagia untuk melakukan perjalanan ini.

***

Awal yang mengesankan. Sebuah gedung yang tidak lagi mewah (mepet sawah) menghadang pandanganku. Aku terkesima, bagaimana tidak, selama dua bulan aku terkungkung di universitas yang sangat jauh dari estetika maupun kemewahan dalam arti yang sesungguhnya. Pokoknya kini aku bahagia. Bahagia sekali. Kamudian, kubiarkan ibuku mengurus segala hal tetek bengeknya pendaftaran. Tapi itu semua bisa dihadapi dengan mudah, kakak sepupuku ada disana. Ialah yang kuharapkan disini menjagaku, membantuku untuk beradaptasi dilingkungan baru ini, dan menjadi orang tuaku sekaligus.

Aku keluar dari kantor Universitas itu. Hape yang ku matikan sejak kemarin ku buka perlahan. Hatiku berdebar sebenarnya, karena aku sudah bisa menduga siapa yang pertama kali akan sms aku. Ternyata dua puluh sms masuk dari teman-temanku di universitas lama yang mewah itu, semuanya menanyakan kabar. Untuk menjawab semuanya tentu membutuhkan pulsa yang banyak, jadi semuanya tidak ada yang kubalas, basi ah. Tapi sekarang yang sangat mengherankan adalah tidak ada satupun sms dari lelaki yang mengaku mencintaiku setengah mati itu. Sebuah pertanyaan muncul, bertambah lagi dan lagi. Akhirnya aku kebingungan menyimpulkan apa yang terjadi dengan dirinya. Aku sangat tidak ingin memikirkan hal-hal negatif karena hal itu sangat mungkin bisa menjadi kenyataan –seperti yang ia yakini-. Aku hembuskan nafas untuk menenangkan perasaanku. Aku mencoba berfikir positif, yah, akan kutunggu sampai satu minggu, kalau tidak ada satupun sms dari dia yang sangat mencintaiku itu, berarti…aku tidak mampu untuk mengucapkannya.

Maka aku memulai kehidupan baruku di kampus ini dengan mengajak teman-teman se-kosku berjalan-jalan sepanjang hari seputar kampus. Aku tidak akan jauh meninggalkan kos karena aku anak berkerudung yang mesti menjaga sikap. Dan tentunya aku belum mengenal daerah ini, aku takut dengan semua hal yang baru. Lama kelamaan aku mempunyai teman akrab yang mungkin bisa menjadi teman curhat dan segalanya. Sahabat adalah sebuah ikatan yang sangat erat, suatu simpul mati yang tidak akan pernah bisa terlepas. Dan kini kudapatkan sahabat itu. Melewati hari-hari dikampus ini begitu berbeda, semua fasilitas tersedia, tugas-tugas kukerjakan dengan rasa senang hati. Aku menempuh pendidikan disini dengan kebanggaan yang penuh. Sebuah sekolah yang kuimpikan. Bersaing dengan pesaing-pesaing tangguh dari penjuru negeri.

Satu minggu sudah berlalu, aku semakin malas disini. Aneh, aku jadi memikirkan lelaki itu. Mengapa ia tidak sms atau mengabari apapun? Aku mulai berpikiran macam-macam, berpikir bahwa ia sama saja dengan lelaki manapun yang Cuma mengobral kata-kata manis. Meski ada rasa ketidakpercayaan, tapi rasa itu sepertinya timbul tengelam antara ada dan tidak.

Aku pandangi hapeku, kubuka inbox, melihat kembali isi sms dari dia yang kuyakini cintanya. Manis sekali kata-kata itu, aku terpesona padanya, tapi kini mengapa ia tidak sama sekali menghubungiku? Apa aku yang mesti sms dulu? Tidak mungkin lah, harga diriku sebagai seorang cewek bisa hancur hanya karena lelaki seperti dia. Maka aku menolak untuk menghubungi dia terlebih dahulu. Aku menunggu sampai aku benar-benar akan bosan dan akhirnya lelaki itu akan kucampakka dari dalam hatiku.

Dan puncaknya, hari itu juga, aku mengganti kartuku tanpa seorangpun kuberi tahu. Komunikasi terputus, hal-hal baru kini mengisi hari-hariku mengalahkan yang basi.

***

Aku di Jember punya rumah juga sehingga aku jarang pulang ke rumahku di Lumajang. Rumahku yang sesungguhnya. Aku pulang dengan wajah baru. Aku yakin bila kini aku semakin cantik. Saat aku menginjak kali pertama tanah didepan rumahku, aku bersujud, bersyukur pada Tuhan yang memperkenankan aku untuk menikmati kenangan-kenangan masa kecilku. Aku disambut keluargaku dengan luar biasa. Aku sangat berbahagia disini, ditengah-tengah keluargaku. Dan ini semoga berlangsung untuk selama-lamanya.

Saat aku sungkem kepada Ibuku, ia mangatakan kalau ada seorang temanku yang setiap bulan pasti menelepon ke rumah. Ia berpesan kalau sewaktu-waktu aku pulang agar segera menghubunginya. Aku tersenyum, aku tidak bisa membayangkan itu siapa. Aku melihat nomornya dari hape Ibu dan meneleponnya. Suara seorang wanita, ternyata itu Mia. Ia tidak berbicara, hanya terisak. Aku semakin bingung. Seharusnya aku gembira kini, Mia benar-benar mengusik kebahagiaanku. Akhirnya kutinggalkan telepon itu dan kumatikan. Aku ingin menikmati kebersamaan ini. Aku cinta pada keluargaku.

Pagi keesokan harinya, Mia telah tiba di depan rumahku. Aku terkejut dibuatnya. Ia kini tumbuh menjadi gadis cantik nan jelita. Aku memeluknya erat-erat, ia menagis terisak, akupun menangis, entahlah. Mengapa pertemuan ini harus diisi dengan tangisan? Aku menjadi bingung.
Akhirnya ia menceritakan sebuah kenyataan yang harus kuhadapi, yang telah lama kulupakan. Aku tidak menyangkanya sama sekali. Mia yang kini telah menjadi sarjana informatika itu begitu menyesali sikapku selama ini yang memutus hubungan dengan anak-anak Unijoyo. Bahkan ia mengutukku kalau besok pagi tidak bisa sampai di madura, mengunjungi seseorang yang aku tidak ingin menebaknya. Katanya kini Universitas Trunojoyo itu telah mempunyai sebuah kisah sendiri tentang Laila Majnun. Dan tokohnya, salah satunya adalah aku.

Aku termenung sejenak membayangkan bahwa lelaki itu masih mencintaiku dan menungguku untuk kembali, hatiku bergetar tak menentu. Besok pagi, besok pagi aku harus sudah ada disana. Aku memikirkan sebuah cara agar ini tidak seperti drama dan aku tidak mau dibohongi oleh drama anak-anak kampus Unijoyo, aku harus memikirkan sebuah cara yang sangat tidak mereka pikirkan untuk membuktikan semua yang tidak pernah kulihat dan kubayangkan. Bahwa lelaki itu masih setia dan benar-benar setia. Mungkin saja ada sebuah permainan agar aku percaya kalau lelaki itu benar-benar setia.

Singkat dan jelas kurasa, pada saat itu juga aku menuju ke Unijoyo setelah Mia keluar dari rumahku. Aku tidak akan menunggu sampai Mia mengantarku agar aku bisa membuktikan segalanya. Mungkin aku membutuhkan pembuktian karena aku kini benar-benar telah melupakannya. Kini saat rasa itu kembali, aku memerlukan sebuah bukti untuk mengembalikan kepercayaan dan rasa cintaku. Aku menata hatiku hinga benar-benar mampu untuk bertemu.
Sebuah kampus yang sudah benar-benar berubah. Meski kurasakan empat tahun serasa empat hari, mungkin maksudku sangat terasa cepat sekali, tapi perubahan telah benar-benar luar biasa. Aku menemukan kampus yang baru, bukan mewah lagi.

Ketika aku memasuki kampus dan mencoba untuk mengembalikan ingatanku, kutangkap sosok dikejauhan ditempat yang sangat dan sangat kukenal. Itu tempat dibawah pohon yang bila musim hujan akan berbunga kuning dan merah. Indah sekali. Aku sudah bisa menebaknya mungkin, tapi aku masih tidak percaya, aku mendatangi lelaki itu. Lelaki yang sangat kukenal dalam hatiku dan pikiranku empat tahun yang lalu. Sama saja penampilannya, saat ia membalikkan tubuhnya, aku terkejut. Ia terkejut, kami sama-sama terkejut. ia seperti tidak percaya akan kedatanganku. Aku tidak sanggup lagi berlama-lama menatapnya. Aku yakin aku akan kalah.

Akhirnya aku menangisi apapun yang telah dilakukannya selama ini. Ia menungguku, selama ini. Dan ia sama sekali tidak mempedulikan bahwa aku sangat mengasihinya.

Ia memandangi aku bagai memandangi setan. Ia antara tersenyum dan menangis. Akhirnya ia terduduk tanpa menungguku mendekatinya. Sebuah kesetiaan yang hampir tidak pernah terjadi setelah siti nurbaya, dan tidak akan pernah terjadi lagi dimasa yang akan datang. Inilah akhir dari semuanya.

Saat itu, Mia datang, membawa cerita yang menyedihkan. Selama ini, dalam hujan ataupun panas, lelaki itu menatap jauh kedepan di bawah pohon itu. Ia hanya berhenti ketika kuliah atau saat absen bertemu Tuhannya sehari lima kali. Lelaki itu percaya bahwa aku akan kembali dengan membawa cinta yang sebenarnya. Ia percaya bahwa aku akan setia, perempuan sejati yang akan menjaga kesetiaan dimanapun dan kapanpun. Aku bingung menentukan sikap, sebuah peperangan dengan keras berkecamuk dalam hatiku. Kami terdiam kembali, lama sekali. Angin berhenti bertiup. Jatuh daun berguguran menghiasi halaman kampus yang luas, bukan daun, itu bunga empat tahun yang lalu. Guguran itu membentuk permadani kuning bersemu merah atau sebaliknya. Dan itu semakin membuat hatiku merinding. Aku melihat wajahnya berulang kali. Ku tahu ia ragu dengan kesetiaanku karena melihat sikapku yang gelisah ini. Ia telah curiga. Dan aku menangis perlahan. Air mataku tak tertahankan. Dia, lelaki itu keterlaluan mencintaiku dengan kesetiaan yang membuat orang tidak cintapun akan tumbuh menjadi cinta balik sehidup semati. Aku menangis, itulah yang dilakukan wanita untuk menunjukkan kalau ia kebingungan.

Dan mungkin terlalu lama aku berdiam diri seperti ini. Aku janji akan pulang pada tengah hari. Aku kira ini persoalan sepele dan tidak mungkinelelaki itu akan sanggup melakukan kesetiaan seperti yang dijanjikannya dulu. Kukira aku kesini akan membongkar kebohongan yang dirangkai Mia dan lelaki ini. Tapi ternyata dia, diluar dugaan.

Pasti orang tuaku akan kesini. Aku telah dijodohkan oleh mereka dengan dosen muda yang ada di Jember teman saudara sepupuku. Yang lebih terhormat, lebih kaya, lebih tampan, lebih rapi dan lebih semuanya. Aku menangis. Tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tapi lelaki itu tersenyum, ia meyakinkanku bahwa pilihanku selamanya adalah yang terbaik.

”Maafkan aku yang selalu menyakitimu, terus melukaimu, tidak bisa menepati janjiku, meragukanmu, dan melecehkanmu. Kini terpancar cinta itu di depanku, tapi aku tidak mampu menggapainya. Maafkan aku, maafkan…!!!” kataku untuk yang terakhir kali.

”Cinta tidak punya ingatan tentang luka hati, cinta memaafkan tanpa syarat” katanya sambil memandang lurus kedepan. Kearifan telah menjangkau mulutnya, pujangga kehidupan baru terlahir alamiah.

Aku menangis sepanjang jalan, sepanjang hidupku.

Apakah Tandanya…?

”cinta Itu ada, tanpa tanda, tanpa bahasa, dan itu ada”

Nenek sedang sibuk membuat makanan untuk makan malam. Ibu dan Ayahku masih bekerja diluar rumah. Biasanya ia akan pulang setelah jam tujuh malam. Dan ada sesuatu yang menggangguku ketika ia tersenyum sambi bercerita tentang kakekku yang katanya adalah lelaki paling romantis di dunia ini. Aku terus saja penasaran bertanya ini dan itu untuk menyerap sebuah pengalaman yang mungkin saja sebentar lagi akan kurasakan.

”Bagaimana sih ketika nenek jatuh cinta? Apa nenek tahu karena ada tanda atau kilatan cahaya?” tanyaku sambil menggelayut manja di lengannya. Nenek diam saja sambil tersenyum. Ia berulang kali menyingkirkan aku dari lengannya, tapi aku terus mengganggunya. Aku ingin tahu apa jawabannya.

”Kau akan merasakannya nanti, sendiri. Tidak ada tanda dan kau mengenalnya begitu saja bahwa itu memang cintamu. Kau akan tahu begitu saja” jawab nenekku kemudian sambil menghembuskan nafasnya yang keberatan. Aku terdiam kaku, ternyata tidak ada tandanya. Aku tidak percaya. Paling tidak ada sesuatu yang bersinar, daun jatuh, atau pelangi atau bintang jatuh. Harus ada tandanya.

Keesokan harinya ketika nenek di ruang tengah, aku kembali menghampirinya. Aku penasaran terhadapnya, sampai saat ini, dibandingkan ayah dengan ibuku, masih lebih mesra nenek dengan kakekku padahal mereka sudah tua. Apalagi yang diharapkan dari orang-orang yang sudah tua?

”Ceritakan kepadaku Nek, bagaimana nenek tahu kalau Kakek adalah cinta untuk nenek” tanyaku lagi. Tapi aku tidak diperhatikannya. Ia memejamkan matanya, aku kira ia akan tidur.

”Ayo dong Nek, pleeze!!!”

”Baik, baiklah. Ambilkan Nenek teh di meja makan dulu. Nanti akan Nenek ceritakan hingga habis”

Akupun berlari mengambilkan segelas teh tersebut dan kemudian duduk di kursi yang lain tidak jauh dari nenek.

Ketika ia mulai berbicara senyum mengembang dibibirnya.

”Saat itu adalah pesta dansa di sekolah. Kebetulan saja nenek tidak seorang gadis pedansa yang baik. Aku masih sering terpeleset saat berputar mengikuti musik. Itu membingungkan” ia meneguk tehnya sedikit. Berdiam lama-lama untuk mengodaku. Ia baru melanjutkan ketika aku memukulnya. Dan iapun tertawa terkekeh menunjukkan giginya yang ompong.

”Tapi aku tidak rela mendapatkan cowok jelek, kau tahu kan, itu sebuah harga diri yang mahal. Dan cowok di kelas nenek waktu itu hampir semuanya rata-rata. ada yang tampan satu, ia pololer dikelas waktu itu. Tubuhnya tegap, pakaiannya rapi, rambutnya disisir sedemikian rupa sehingga benar-benar menunjukkan bahwa ia orang yang paling pantas memasuki istana negara. Tentu satu orang ini direbutkan dengan tidak lebih dari duapuluh gadis. Aku cemburu waktu itu.”

”Dan nenek memilih cowok itu kan? Nenek bisa menakhlukkannya? Hebat!” sahutku sok tahu. Tapi nenek Cuma tersenyum. Dan kemudian ia meneruskan ceritanya.

”Sitampan yang kedua adalah yang pakai kaca mata minus, tiap hari yang dia bicarakan adalah mengenai rumus matematika dan simbiosis antar makhluk hidup. Tentu pada malam yang menyenangkan ini seharusnya tidak diisi dengan pelajaran-pelajaran yang telah kami coba melupakannya sejenak dengan pesta ini. Maka tidak satupun dari dari teman-temanku ingin menjadikan cowok tampan ini sebagai pasangannya, kata mereka lebih baik dengan cowok terjelek di kelas ini dari pada siminus itu.”

Nenek tertawa sejenak. Kinin kuyakin kalau si minus inilah kakekku. Kakekku hebat mengenai tanaman dan rumus matematika.

”Yah, ternyata aku malam itu tidak berpasangan. Aku datang mengenakan pakaian yang punggungku bisa dilihat semua orang. Itu lagi trendpada sat itu, jadi aku mengikutinya. Dan itu merupakan suatu kebangaan bagiku.

Malam semakin larut, mereka msing-masing berdansa dengan pasangannya, kecuali tentunya. Dan aku masih berusaha mendapatkan kencan yang baik. Maksudku, baik wajahnya. Maklumlah masih muda, yang dicari adalah yang tampan terutama, masalah ia tajir atau tidak itu belakangan. Tetapi semua yang mengajakku adalah bisa dikatakan menduduki nomor lima dalam untuk urutan pria idaman menurutku. Jadinya aku memilih jalan tengah, aku tidak berdansa dengan seorangpun. Itu berlangsung lama, sekitar tiga jam. Hingga kemudian cowok berkacamata minus itu mendekatiku, menyodorkan minuman dan mengajakku berdansa. Aku kikuk, memang belum pernah aku berdekatan dengannya. Yah, meski ia adalah satu-satunya andalan ketika ujian berlangsung, dan semua anak sekelasku mengenalnya. Tapi bukan berarti ia menarik, sudah nenek katakan kalau ia seperti dosen ketika berdansa. Kita akan menemukan materi selanjutnya. Tapi, malam itu nenek memang butuh seseorang yang bisa di ajak berdansa. Dan ia telah berani mengajakku, paling tidak nenek memberi kesempatan untuknya agar pernah berdansa dengan cewek yang lumayan cantik.”

”dan nenek akhirnya berdansa dengan pria itu!” ucapku dalam hati. Aku tersenyum.

”Dan bisa kau tebak kan nenek berdansa dengan siapa. Memang benar, ia banyak menyinggung tentang pelajaran. Tapi ia harus berusaha keras untuk mengalahkan musik dj yang di putar. Aku berusaha melihat wajahnya yang tampan –tapi tidak untuk suaranya yang terus memberi materi itu- dan bergerak mengikuti musik. Aku menikmatinya.

Ketika jam dua belas malam berlalu, sebagai seorang gadis nenek harus pulang kalau tidak ingin dilaporkan kehilangan kepada polisi. Nenek pulang diantarkan lelaki berkacamata itu, saat itu nenek semakin khawatir karena cowok itu akan semakin leluasa untuk berbicara panjang lebar mengenai matematika.

Ditengah perjalanan, gerimis turun kecil-kecil. Kami melangkah lebih cepat kalau tidak dikatakan berlari. Tapi tentu langkah kami lebih lambat dari hujan itu, akhirnya kami menginap lagi disebuah warung makan. Hangat sekali ruangannya, tapi malangnya nenek menggunakan baju yang tidak bisa menutupi seluruh kulit nenek, jadi bisa dibayangkan betapa nenek kedinginan saat itu. Saat nenek berusaha menahan kedinginan, cowok itu melepaskan jaketnya dan memakaiakan ke nenek. Lumayan hangat, tapi yang lebih mendebarkan lagi adalah ketika cowok tersebut membantu nenek untuk melepaskan sepatu yang nenek rasakan sudah benar-benar basah dan itu membuat nenek kedinginan setengah mati. ternyata ia tidak membicarakan satupun dari pelajaran seperti dosen. Ia berdiam diri selama itu. Ketika ia melihat ke arahku smabil menggosok-gosok telapak kakiku, ia tersenyum. Ia berkata sasuatu yang nenek ingat sampai saat ini, ”Kau cantik sekali malam ini”. Disanalah nenek tahu kalau kami sudah ditakdirkan untuk menikah ditahun keempat perkuliahan nenek. Dan itu benar-benar terjadi. Tidak ada pelangi, tidak ada kupu-kupu, tidak ada tanda apapun, nenek tahu begitu saja. Dan kaupun akan seperti itu. Temukanlah sendiri apa yang dikatakan cinta kepadamu. Rasakan kehadirannya pada setiap anak muda yang mengajakmu kencan.

Aku tersenyum karena minggu depan ada seorang cowok yang umurnya lima tahun diatasku yang mengajakku kencan. Kuharap disanalah aku bisa melihat tanda itu. Nenek harus salah, harus ada suatu tanda. Entah, apa saja. Pokoknya harus ada. Aku akan mencarinya pada pasnaganku itu.

Kontak Jodoh

Aku selalu berpikiran bahwa orang-orang yang menampangkan identitasnya di koran-koran dengan kata yang besar sekali diatasnya ’Kontak Jodoh’ jelas-jelas menyatakan bahwa ia tidak laku. Itu jelas sekali, mengapa ia tidak mencarinya disekelilingnya? Kontak jodoh adalah hal yang paling kuanggap bodoh dan memalukan. Apalagi itu dilakukan oleh remaja-remaja usia antara 20-25 tahun. Menyebalkan kalau ia adalah orang yang kukenal.

Dan yang lebih menyebalkan lagi adalah orang-orang yang meresponnya, ikut membeli koran dan membacanya dengan sangat perhatian. Layaknya disanalah ia akan mendapatkan pendamping hidup yang sebenarnya. Mengapa juga mereka harus percaya pada hal-hal yang sedemikian. Bahkan fotonyapun tidak dimunculkan. Ini lebih baik di friendsternya remaja sekarang yang menerangkan secara jelas siapa sesungguhnya orang diajak berbicara dan bisa langsung melihat fotonya. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau sesekali ada orang yang iseng, mencantumkan foto artis, data diri di kacaukan sebaik mungkin seperti orang yang bijaksana atau apalah. Itu adalah pengecualian. Dan kebanyakan ketika dulu aku melakukannya dengan sebagian teman-temanku, tidak ada satupun dari kami yang membuat data diri palsu atau bohong. Dan yang paling mencengangkan adalah aku bersuami dengan salah seorang yang ada di sana, di dunia maya yang beralamatkan friendster. Maka dari itu aku begitu percaya, bahwa apapun yang ditulis di sana adalah benar.

Hal yang paling menyebalkan yang telah aku sebuatkan diatas kini harus kuakui bahwa aku kini malah mengikutinya. Aku tidak tahu ini psikologis seperti apa, setelah mendapatkan seorang suami yang begitu sempurna karena kontak jodoh kasat mata itu, aku menjadi tidak punya pilihan lain kecuali menulis sesuatu yang kudapat dari koran itu. Dan tidak kusangka sama sekali kalau aku menuliskan beberapa kalimat untuk menjawab seorang duda yang membutuhkan perempuan yang baik hati.

Duda satu anak, 50, tinggi/berat ideal, rapi, bekerja, sederhana, mendambakan perempuan yang baik hati, 45-50, hubungan serius. Hubungi 081572994085.

Sebuah kebodohan yang kusadari, aku membacanya hampir dengan membayangkan ia seorang lelaki seperti apa. Dan aku tertarik. Entahlah, tiba-tiba saja aku menuliskan balasannya. Aku mengampuni diriku sendiri, dan aku menertawakan tindakanku ini. Andaikan saja aku punya anak dan ia melihat aku melakukan ini, aku akan akan berganti muka karena malu.

Minggu-minggu pertama sejak itu adalah minggu yang mendebarkan. Bunyi telepon, bunyi ketukan pintu, bunyi motor dijalanan, dan semuanya mendebarkan. Aku berdebar-debar ketika ia akan benar-benar meneleponku, atau mengetuk pintuku, atau ia sedang menaiki motor dan mendatangi rumahku. Tapi yang selalu kudapatkan adalah hal-hal biasa. Semuanya berjalan seperti biasa. Dan kemudian aku muak dengan diriku sendiri. Mengapa aku melakukan hal yang jelas-jelas kuanggap bodoh seumur hidupku. Dan itu terbuktikan sekarang. Mengapa aku harus meyakini kontak jodoh itu?.

Kini aku kembali sendiri, sendiri dan sepi yang semakin memuncak. Memang sebelum ini aku kesepian, tapi sekarang adalah batas atas karena aku berharap pada kontak jodoh itu, tapi semuanya berlalu begitu saja.

Suatu hari yang indah, aku melewati sebuah masjid di suatu desa. Masjid kecil yang damai. Hatiku tiba-tiba tertarik untuk kesana. Aku memasukinya dan mencoba menghayati rumah tuhanku ini. Mengapa aku tidak pernah memperhatikan tempat-tempat yang menyenangkan seperti ini? Aku sudah tua, umurku sudah akan menginjak 48 tahun. Memang aku membutuhkan suami untuk mendampingiku menjalani sisa-sisa waktu yang diberikan Tuhan untukku di dunia ini, tapi bila aku sudah berusaha dan itu tidak berhasil, maka aku harus bersimpuh dihadapan Tuhanku sekarang. Bukankah Dia yang menentukan segalanya? Jadi biarlah ini semua terjadi, biarkan aku sendiri menghadapi semua ini. Aku akan berteman dengan Tuhanku dan Tuhan semua yang ada dibumi ini. Ini lebih menyenangkan dari semuanya. Ini lebih dari cukup.

Dan suatu hari lagi, ketika aku membersihkan rumahku, sebuah kenyataan yang memperburuk semuanya terjadi. Ternyata surat balasan itu tidak pernah terkirimkan. Surat itu terjatuh di bawah kotak surat. Jadi yang kutunggu kemarin hanyalah kesia-siaan saja. Aku marah, tapi tidak tau apa lagi yang mesti kulakukan. Aku berpikiran akan mengirim ulang surat itu, tapi…ini semua telah berakhir. Ini memang sudah takdirku. Dan aku akan menyerahkan semuanya kepada teman baruku, Tuhan. Biarkan ia yang menentukan nasibku ini. Aku aka menjalani hidupku sesempurna mungkin. Sebersyukur mungkin.

Aku memulai hidupku yang baru kurasa. Aku akan lebih banyak membantu orang-orang agar aku tidak kesepian di dalam rumah. Aku terus mencari-cari, keliling diberbagai desa disekitar desaku yang indah permai. Ini desa asik sebenrnya, kalau dijadikan tempat wisata mungkin akan tepat sekali. tapi wisatanya orang-orang kota yang telah bosan melihat mesin dan polusi. Aku benar-benar mencari kesibukan dan itu membuatku lupa bahwa aku sendirian di dunia ini. Kadang-kadang aku sempatkan ke masjid untuk memperbaiki hubunganku dengan-Nya yang telah lama putus. Kini aku merasakan adanya kedamaian baru. Dan aku merasakan sesuatu yang sangat merisaukan hatiku. Aku merasakan kalau Tuhan tidak akan membiarkanku hidup sendiri disini. Dan itu membuatku sangat bahagia tapi itu hanyalah perasaan.

Hari-hari setelah aku merasa menjadi teman-Nya adalah menyenangkan. Mendebarkan juga sebagaimana dulu kuyakini bahwa surat yang kulayangkan telah terkirim dan akan terbalas. Tapi ini lebih hebat lagi karena segala sesuatu yang berbeda dan lebih hebat terjadi begitu saja. Memukau aku. Seperti kejadian-kejadian yg telah kualami selama aku menjadi teman-Nya. Aku bahkan bisa menyembuhkan seseorang yang patah kaki. Ketika aku menyebut nama Tuhanku dikakinya yang telah sebulan membengkak memangv tidak terjadi reaksi apa-apa. Tapi keesokan harinya, oran g itu telah berlari ke rumahku. Mengatakan kalau pada malam setelah aku menolongnya ia merasakan sesuatu yang ajaib dikakinya. Ia merasakan ada tangan yang mengurut kakinya hingga ia berteriak-teriak pada malam itu. Memang menyakitkan, tapi sekarang ia bahagia sekali. aku tersenyum. Dan kukatakan kalau itu pertolongan Tuhan. Maka iapun tersenyum dan mengikutiku untuk meramaikan masjid yang damai di desa tersebut.

Dan yang paling mendebarkan adalah ketia suatu ketika di desa yang sangat damai tersebut aku bertemu dengan seorang lelaki yang menyenangkan. Ia pertama bertemu langsung mengundangku untuk makan malam bersamanya di sebuah warung makan. Tapi kurasa itu bukan warung makan, itu adalah sebuah restoran yang sangat megah. Ini memang di kota, aku tidak di desa lagi, aku diajaknya pada suatu malam yang menyenangkan itu. Saat kubuka pintu rumahku, ia etpat berada didepanku, dan aku mendongakkan ekeatas untuk bisa melihat matanya. Ia sangat rapi, rambutnya disisir dan menggunakan setelan jas dengan celana yang sama warnanya, ini membuatnya layak menjadi bintang di sebuah film nasional. Ia berumur 50 tahun. Tapi romantisnya seperti remaja yang baru mengenal cinta.

Di restoran itu, ia memesan berbagai makanan yang aku baru lihat seumur hidupku. Entah apa namanya, tapi aku disuruh memesan apapun sehingga aku harus bertanya kepada pelayan dulu mengenai macam-macam makanan yang tertulis di daftar menu, terbuat dari apa dan rasanya bagaimana. Ia menertawakanku dan mengatakan kalau aku akan terbiasa dengan makanan itu suatu saat nanti. Ketika ia mengucapkan itu, aku sangat yakin kalau ia akan mengajakku menikah setelah makan malam ini berakhir. Dan kuharap ia masih punya cukup keromantisan untuk mengucapkan kata-katanya itu pada tengah malam seperti cinderela. Aku tersenyum membayangkan semuanya, dan memakan apapun yang kumasukkan kemulutku itu tanpa tahu rasanya. Aku sedang merasakan yang lain. Hatiku.

Satu jam kami ngomong apapun dari semuanya. Dia menyenangkan, dan ia tahu semua tentang hobi-hobiku. Saat aku mengatakan kalau aku menyukai buku magdalena yang kurasa itu sangat kuno sekali, ia malah meneruskan perkataanku dengan menyebutkan kata-kata yang digunakan stevan untuk merayu magdalena. Dan ia menggunakan kata-kata itu padaku. Aku tentu saja merasa seperti ratu di dunia ini. Hingga kemudian, waktu yang berlanjut terus mengantarkannya pada klimaks yang membuatku terkejut untuk selamanya. Ia berpamitan dulu ke belakang. Aku menunggu dengan senang tentunya. Pasti ia akan membuat suatu kejutan untukku. Maka ketika pelayan memberikanku lagi hidangan penutup, itu adalah puding coklat, aku tidak sabar menunggunya. Mungkin didalam kue puding itu ada sesuatu, cincin barangkali, sebagai maskawin untukku nanti. Aku semakin tidak tahan ketika sudah setengah jam aku emnunggu. Tempat itu hampir tutup dan aku meminta pelayan restoran tersebut untuk mengecek kamar mandi, dan apa yang kudapatkan? Kamar mandi kosong, dan aku ditinggal seorang diri disini dengan bon yang menumpuk. Aku tidak membawa uang sama sekali. ini keterlaluan, ternyata ia sangat berbeda dari penampilannya.

Akupun menurut saja ketika pelayan itu membawaku ke belakang, tentunya aku akan mencuci piring disana selama stau malam atau tidak satu minggu. Tapi tidak, di ruangan lain dari restoran itu, ia berkata.

”Ini restoran mahal, aku tahu keadaan anda. Sudah sering ada orang yang bernasib seperti anda.”

Tunggu sebentar, ia menyebutku anda, berarti aku dihormatinya.

”Paling tidak biasanya orang-orang itu meninggalkan jaket atau topinya, anda adalah salah seorang yang ditinggal sendirian. Sekarang, mari kuantarkan pulang. Atau kupanggilkan taksi karena restoran ini belum tutup. Jangan menolak, aku tahu anda tidak punya uang malam ini, semuanya akan kubayar”

Itu adalah malam yang menyedihkan buatku. Saat aku berharap akan mendapatkan lelaki yang sempurna sepertinya malah yang kudapat adalah seorang penipu. Tapi Tuhan berkata lain, ternyata itu adalah tetap malam terbahagiaku, malam yang akan kukenang selalu. Tuhan telah memilihkan pasangan hidupku. Ternyata pelayan itu, suatu hari kerumahku dan meminangku. Ia berumur 51 tahu, aku 48. aku menerimanya hingga sekarang sudah sepuluh tahun. Tuhan begitu adil terhadapku, ia mengujiku dengan kehilangan seseorang dan kemudian mengantikan dengan yang terbaik. Suatu saat, suamiku yang suda tua itu berkata kepadaku sambil tersenyum.

”Dulu aku pernah mancantumkan namaku di salah satu agen koran. Di sebuah layanan kontak jodoh gratis. Aku merasa sudah tidak laku lagi kala itu. Kenyataannya itu semua tidak membantuku, dan sekarang, aku telah menemukan belahan jiwaku yang hilang beberapa tahun. Terimakasih kau telah mau menjadi istriku hingga aku tua seperti ini”.

Saat aku mengatakan ciri-ciri kata-kata yang ia buat dalam kontak jodoh itu ia kaget. Dan aku merasa beruntung, ternyata Tuhan telah merancang semuanya. meski surat untuk calon suami itu tidak pernah tersampaikan, Tuhan telah menyampaikan hati kita untuknya.

Selalu ada seseorang yang akan menemukan kita, meski bahasa yang kita gunakan untuk menghubunginaya tidak pernah tersampaikan. Meski terkubur debu.

Akhir Kisah Cinta

Seharusnya matanya tajam jika menatap. Tapi itu tidaklah sampai membutakan dan membuat hati gugup dan cemas, tatapannya teduh, indah dan bisa menguatkan hati untuk mengatakan sesuatu yang kau sembunyikan. Hanya sekali tatapan matanya kurasakan, yaitu saat pertama kali ku mengerti arti dirinya bagi diriku.

Dari mata itulah, sebuah kekuatan yang mungkin tidak akan pernah di rasakan orang lain menghembuskan nafasnya padaku sehingga dengan kegagahan yang luar biasa kuucapkan kata cinta. Tatapan matanya membentuk sebuah keyakinan dan keoptimisan yang hebat pada diriku yang selalu merasa rendah dan pesimistis. Perempuan secantik dirinya tentu tidak pernah kuimpikan akan menghuni hatiku yang kotor ini. Yang kuharapkan kini hanyalah ia mampu untuk bertahan bersamaku karena ku akan setia padanya hingga ia yang memutuskan selanjutnya. Hanya itu yang bisa ku obralkan padanya, hanya janji setia dan mencintainya, dan aku memang mewujudkannya. Tidak ada satupun keraguan di relung hatiku akan mendustakannya.

Seorang wanita berkata padaku, bahwa cinta seorang gadis pada pemuda itu tulus. sangat tulus seperti ibu yang rela mengorbankan apapun untuk anaknya, sedangkan lelaki, kecintaannya hanyalah sebatas cinta anak pada orang tua. Aku menghormati perkataannya itu, aku coba untuk mempercayainya dan kuharapkan cinta kekasihku inipun seperti apa yang dikatakan wanita itu.

Kami menjalani hidup yang indah. Berulang kali ia mengatakan rindu dan kasih sayangnya. Dan aku, bila ia sudah mengatakan tentang perasaannya yang selalu merindukanku, aku tidak bisa berkutik lagi. Sejauh apapun, sesulit apapun aku akan datang padanya meski harus sprint seratus kilo. Apakah itu impossible? I say not. Aku merasakan sebuah kekuatan cinta mengalahkan segalanya. Aku membuktikan apapun yang dikatakan para pujangga cinta yang telah mendahuluiku. Bahkan ketika di yakini sebagian pecinta kalau cinta mampu membuat pujangga dadakan, aku membuktikannya dengan menulis seribu bait puisi berisi doa untuk kekasihku. Dan itu di tolak mentah-mentah hanya karena ia gengsi menerimanya. Sungguh keterlaluan, padahal aku sangat yakin ia bersimpati padaku. Aku tidak habis pikir mengenai wanita, sebenarnya apa yang ada diisi kepalanya. Maaf, itu kisah terdahulu yang menyakitkan.
Mungkin aku tidak akan mengungkitnya lagi. Sebuah masa lalu yang meski masih sakit bila teringat. Masa-masa paling menyenangkan selama usia hidup, masa SMA. Dan itu bukan cinta monyet kurasa. Sampai sekarang wanita itu membuat hatiku berdesir. Tapi aku tetap tersenyum padanya meski selamanya ia tidak mau menatapku. Meski selamanya ia tidak menganggapku benar-benar ada di dunia.

Aku tidak mempedulikannya kini, karena sekarang, seorang wanita cantik, bermata indah, dan bergaun seksi dimata agama menghiasi setiap jengkal hatiku. Matanya menyiratkan kemurnian hati yang bening, kuning kulitnya adalah gambaran pemandangan alam yang tiada bandingan, dan bila sampai suaranya keluar, maka nafasku tidak akan bisa beraturan lagi. Meski setelah ia bersuara membuatku seperti lari keliling dunia sepuluh kali, aku tetap mendambakan ia memanggilku. Aku selalu berharap ia akan berkata ini dan itu, bertanya tentangku, tentang dunia di luar sana yang ia tidak tahu, dan mungkin bernyanyi kecil-kecil mengingat lagu-lagu kenangan bagi jiwanya. Aku akan sempurna mendengarnya.

O Fathin, suara-suara kerinduan yang kau ucapkan ketika cinta bersemi merupakan sebuah simfoni kehidupan yang membangkitkan seluruh nuraniku. Apapun yang tidak berani kubayangkan kini menjadi mimpi-mimpi yang menghiasi tidurku. Aku semakin berani mengkhayalkan tentang keberhasilan, lebih berani bercita-cita, dan lebih berani tidak memperhatikan semua di dunia ini kecuali senyummu. Ingat ketika kukatakan bahwa senyummu pagi ini indah sekali? Kuharap aku tidak terlihat sedang merayu. Tapi kukatakan sejujurnya dari dalam hati dulu.

Dan sesungguhnya orang yang sedang jatuh cinta itu sangatlah egois. Aku menceritakan semua tentangmu, kecantikanmu, kesucianmu, dan keikhlasanmu mencintaiku kepada orang-orang yang kujumpai. Kutahu, aku sangat tahu kalau mereka akan mengernyitkan dahi dan menganggap bahwa aku sudah gila memujimu bagai bidadari. Aku memang sudah gila oleh pancaran cinta yang indah darimu. Aku terpikat oleh semua yang ada padamu. Aku jatuh cinta padamu hingga aku benar-benar jatuh tidak sanggup bangun lagi. Dengan kerendahan hati, dengan kesombongan, dengan optimis dan pesimis, dengan jujur dan kebohongan, dengan egois, dengan apathis, dengan skeptis, dengan amarah, dengan energi seluruh yang kumiliki, dengan sebuah keyakinan yang selama ini menghuni jiwaku, aku katakan kalau aku mencintaimu.
Dan ketulusanmu semakin terpancar. Saat aku pulang dari kota selama tiga hari kala itu, kau berbinar. Matamu semakin bersinar. Kau tidak bisa menyembunyikan rasa rindumu itu. Tapi apa yang bisa kita perbuat kalau tidak hanya saling merasakan sebuah lagu kesepian yang melengang di antara kita. Lima meter kalau aku berkunjung ke kosmu. Lima meter kita menjaga jarak, sebuah lelucon yang menyakitkan dan tidak lucu sama sekali. Sebuah kisah cinta amatir dan sejati yang menyedihkan. Penjagaan akan kesucian menjadi ideologi nomor satu dalam hubungan ini. Aku menghormatimu, aku menjunjungmu setinggi-setingginya. Kau belum ternoda sama sekali, dan akulah yang hadir pertama dalam hidupmu. Aku tidak ingin meninggalkan noda, sedetikpun, sekecil apapun. Aku akan menjaga kesucian hubungan ini hingga kau tidak sanggup lagi menjaga hubungan kita. Cintaku padamu melebihi apapun yang kumiliki di dunia ini.

Kemudian, ketika suatu ketika kau katakan bahwa aku harus lupakanmu, tentu aku anggap itu hanya gurauan semata seperti yang sudah-sudah. Ketika kau sering mengatakan bahwa ’ini terakhir kalinya aku menghubungimu’, dan aku akan menyembah-nyembah agar kau tidak meninggalkan aku. Kau malah tertawa karas-keras. Saat aku menangis, dadaku serak, tenggorokanku kehabisan air ludah untuk membasahinya, dan akhirnya kuminum sendiri air mataku. Saat semuanya serba menyakitkan, kau baru membuka sebuah tabir. Tabir yang sangat tipis dan tajam, yang bisa menjerat leherku seketika dan aku akan mati mengenaskan. Kau tersenyum, penuh arti, tanpa mengenal dosa, kau berkata, ’aku cuma bercanda, aku berpura-pura marah, karena kalau aku marah, kata-katamu membuatku seperti…’. aku tahu, kau merasa hebat bukan? Saat mampu memperdaya dan menjerat lelaki dan kau akan meninggalkanya begitu saja hingga lelaki itu memohon, merangkak, dan mengagungkanmu. Kau merasa tiada duanya bisa membuat lelaki takhluk seperti aku, yug menyembahmu mati-matian hingga habis segala pujianku untuk Tuhanku sendiri. Dan kau tertawa terbahak-bahak dalam diri, bersembunyi dalam hatimu sesuatu yang aku tidak mau sebutkan apa itu.

Bagaimanapun, apapun yang terjadi, kau telah mengajarkan mataku untuk dapat melihat lagi. Tanganku tidak lagi buntung untuk menuliskan kata-kata. Otakku tidak lagi tumpul untuk merangkai adonan huruf menjadi indah layaknya pujangga. Kau ingatkan aku lagi dengan hatiku yang sempat mati. Kaulah segalanya, kaulah yang sejati, yang mengajarkanku makna hidup dan pengorbanan,

Ketulusan wanita terungkap, saat kau tiba-tiba tidak mempedulikanku sama sekali. Aku terbujur kaku, terlentang tanpa arah, tengkurap diatas amarahku. Aku menghubungimu tiada henti, dan itu sedemikian lamanya hingga tersambung dan kau putus begitu saja. Kau jahat tapi aku tidak mampu mengatakannya. Aku sulit untuk mengatakan bahwa kau kejam terhadapku, tapi entahlah cintaku sedemikian membara seperti batu bara yang telah membakar sebuah mesin kapal berbulan-bulan di laut lepas hingga tidak mungkin akan padam sekejap meski kapal itu tenggelam. Kekejaman ini seperti duri yang ada dalam bunga mawar, aku menikmatinya dan itu bisa membuatku tersenyum, yang saat kutatap di cermin, ternyata aku tersenyum getir.

”Aku mencintaimu dengan tidak sebenarnya” itu katamu. Apa maksudmu?

”Hm…dulu aku kasihan saja sama kamu yang kuliah disini tidak bermodal apa-apa. Aku tulus, makanya aku harus jujur padamu dan kamu mesti tinggalkanku, lupakanku, selamanya”

Demi sebuah ketulusan katamu. Kau tidak tau arti ketulusan. Demi Tuhan, sebuah ketulusan akan membawamu pada kesempurnaan jiwa dan raga. Aku yang yakin kau mencintaiku dengan sepenuh hati, tapi malah kau sendiri yang meraguakan dirimu sendiri.

”Benar, inilah yang sebenarnya. Aku hanya mencintaimu berdasarkan terima kasih saja. Kau begitu baik padaku, ingat, saat pertama kita bertemu dalam satu kelompok? ketika itu aku minder kepada teman-temanku yang lain, yang tentu mereka lebih menarik dari pada aku yang serba tertutup oleh pakaianku ini. Mereka kelihatan manis dan seksi dengan pakaian yang melekat dikulit mereka. Saat mereka tertawa dengan lengkapnya, kemudian ketika mereka melihatku, maka tertawanya berhenti. Kau tahu, meski aku tidak berniat minta di puji laki-laki, tapi sebagai wanita perasaanku merasa tidak enak. Terus berlanjut hingga aku di acuhkan mereka, kaulah yang memberiku kekuatan untuk tetap bertahan disana, bahkan kau malah sering-sering menatapku secara terang-terangan. Akibat tatapanmu itu, aku menjadi sangat percaya bahwa diriku mempunyai kelebihan. Dan aku semakin yakin pada diriku sendiri. Tidak berhenti sampai di situ kan, hingga kau sering membantuku menyelesaikan pekerjaanku. Kau yang terampil menerangkan di depan saat kelompok kebingungan menjelaskan arti makalah yang di buat, kau yang selalu tepat waktu, kau kurasa betapa hebat. Aku mengagumi kepandaianmu. Saat kutahu kau sedemikian miskin di dunia ini, aku menangis. Aku sangat bersedih atas nasibmu. Dan kasihan itu, kekaguman yang sesaat itu, keterimaksihanku itu, menjadi tidak berkutik saat kau dengan terang-terangan juga mengatakan cinta. Aku harus menjawab apa? Dengan segala kebaikanmu yang tidak bisa kubalas itu, aku tentu kebingungan. Kau tahu sendiri kan kalau aku tidak pernah punya pengalaman seperti ini. This is my first experience about love. Hingga lama-lama kutemukan cinta dalam dirimu yang keterlaluan tulusnya. Aku mendiamkannya. Aku terus terang sangat senang di cintai seperti itu. Dan aku menjadi bersalah kalau aku tidak jujur padamu kalau cintaku padamu tidaklah sedemikian dalam. Tidak lebih dalam dari kolam tempat wudlu di masjid. Kau tahu? Tentu kau akan sakit hati. Tapi demi ketulusanku, aku harus jujur padamu”.

Saat kau katakan itu dengan lancar seperti telah terekam erat dalam pikiranmu, aku menjadi sangat ragu dengan semua yang terjadi. Pegangan hidupku, inspirasi terbesarku, cinta sejatiku, kasih tersayangku, bintang tercermelangku, hatiku, jantungku, mataku, kepalaku, pikiranku, bisa berkata sangat dan terlalu tidak enak untuk kudengarkan. Meruntuhkan kerajaan cinta yang selama ini kupupuk. Sejak itu kau menjadi tidak mengenalku. Mungkin kau benar dengan ucapanmu itu. Tapi aku tidak peduli, aku terus memburumu, aku terus mengejarmu, mengucapkan kata cinta tiada henti, bahkan adegan menuliskan namamu dengan darahku di wall climbing dengan tanpa pengamanpun kau acuhkan.

Kemudian kau tersenyum, mengucapkan, ”Aku bahagia kau telah jauh dariku!”

Dan aku yang tidak ingin putus asapun terpaksa menghentikan semua kisah ini. Aku mencintaimu agar kau bahagia, ternyata aku salah, kau lebih bahagia ketika ku tinggalkan seperti yang kau ucapkan ini, aku tidak berkutik lagi. Aku tidak berguna lagi. Ternyata aku memang orang terbodoh, terjelek dan terpercaya diri yang pernah ada. Kini wajahku akan kututupi dengan air mata kesuraman dan kesendirian. Aku tidak akan tertawa terlalu lebar lagi. Cukup sudah kesedihan dan kesepian yang akan meliputiku.

Sekarang aku tidak mungkin bisa lagi menulis lebih jauh lagi, semuanya telah berhenti dengan keputusanmu untuk meninggalkanku. Semoga kau temukan lelaki yang cintanya melebihi cintaku, melebihi kasih dan sayangku, melebihi kesetiaan yang kuberikan padamu.My big inspiration leave me again, why like this? Will I life with alone and lonely? My Love, Fathin, My heart for you forever.

« Entri lama